Image

Masuk era Revolusi Industri ke-4, Perguruan Tinggi Harus Cepat Merespons

Foto: Ilustrasi Okezone

Foto: Ilustrasi Okezone

JAKARTA - Untuk dapat menghasilkan lulusan terampil dan bersertifikasi, maka pemerintah harus membuka sekolah vokasi dan politeknik sebanyak-banyaknya.

Seiring dengan itu, dunia industri diharapkan nantinya dapat berkembang lebih maju dan pesat sehingga bisa membuka lapangan kerja seluas-luasnya agar lulusan pendidikan tinggi dan sekolah vokasi terserap di dunia kerja.

Rektor UGM Prof Ir Dwikorita Karnawati mengatakan saat ini dunia tengah memasuki era revolusi industri yang ke empat. Apabila sebelumnya revolusi industri pertama dimulai dari ditemukannya mesin uap, revolusi kedua dengan ditemukannya listrik, selanjutnya revolusi ketiga adalah pemanfaatan robot pengganti tenaga manusia di industri.

“Revolusi industri ke empat sekarang adalah era teknologi digital, semua serba digital. Apabila kita tidak bergerak ke era digital maka bangsa kita akan tertinggal,” kata Dwikorita. dalam talkshow bertajuk Tantangan dan Peluang Perguruan Tinggi dan Peran Prodi dalam Manajemen Pendidikan Tinggi, seperti dilansir dari laman UGM, Kamis (20/4/2017).

Oleh karenanya, sambung Dwikorita, lingkungan perguruan tinggi mau tidak mau merespons perubahan itu lewat pengembangan pengelolaan pendidikan dengan konsep smart kampus yang terintegrasi.

“Pengelola pendidikan tinggi harus mampu mengelola pesatnya kemajuan dunia digital yang mengalami perubahan begitu cepat,” katanya.

Menurutnya, perguruan tinggi harus mampu meningkatkan kemampuan daya saing dengan menghasilkan kualitas lulusan yang mampu menangkap peluang, menganalisis risiko secara jitu, dan keberanian untuk selalu bangkit ketika menghadapi kegagalan.

“UGM baru saja meredesain kurikulum agar lulusan memiliki karakter socioentrepreneurship sehingga kemampuan softskill mereka mampu mengikuti kecepatan perubahan itu,” ujarnya.

Untuk mendorong kemajuan bangsa menjadi lebih cepat, lanjut dia, pemerintah perlu mendorong pembukaan pendidikan sekolah vokasi dan politeknik sebanyak-banyaknya agar bisa menghasilkan lulusan yang terampil dan memiliki sertifikasi.

“Sekolah vokasi dan politeknik perlu ditingkatkan, jumlahnya saat ini sangat sedikit sekali. Di negara maju, misalnya, sekitar 70 persen adalah pendidikan politeknik atau sekolah vokasi, dan sisanya prodi di perguruan tinggi,” paparnya.

(sus)
Live Streaming
Logo