Image

Soal LCEP, Honda: Tak Mudah Produksi Mobil Hybrid di Indonesia

Santo Evren Sirait, Jurnalis · Jum'at, 21 April 2017 - 08:17 WIB
Pabrik mobil Honda (Foto/Okezone) Pabrik mobil Honda (Foto/Okezone)

TANGERANG - Program lanjutan pemerintah setelah low cost green car (LCGC) yaitu low carbon emission programme (LCEP). Kriteria mobil yang masuk dalam program tersebut adalah memiliki mesin berkapasitas di atas 1.200 cc. Tidak terbatas hanya mobil bermesin konvensional saja, tapi bisa juga berbahan bakar gas dan hybrid.

Secara teknologi, seluruh agen pemegang merek (APM) di Indonesia termasuk Honda sudah memilikinya. Namun tinggal menunggu peraturan detail mengenai LCEP itu sendiri.

"Nantilah, kalau sudah jadi peraturannya. Begini, sama seperti LCGC, menurut kami LCGC merupakan paket yang cukup lengkap karena Pemerintah tidak hanya mensyaratkan dari segi bahan bakarnya saja 20 kilometer per liter, tapi juga kasih syarat yang ketat seperti konten lokal harus 85 persen dan harus bangun pabrik di sini. Jadi ada investasi untuk meningkatkan pendapatan pemerintah," kata Jonfis Fandy, marketing and aftersales service director PT Honda Prospect Motor (HPM), kemarin.

Menurut dia, bila program baru tersebut tujuannya untuk memelihara lingkungan, maka mobil hybrid-lah yang paling cocok, sebab emisi karbonnya cenderung sedikit.

"Hybrid itu yang membantu memperbaiki lingkungan cukup besar. Beberapa negara sudah menggunakan mobil hybrid untuk beraktivitas seperti di Eropa, sehingga konsumsi karbon di sana jadi rendah," ucapnya.

Namun bila mengharuskan mobil LCEP diproduksi lokal, itu masih menjadi kendala untuk hybrid. Membangun mobil hybrid secara lokal tidak mudah karena ada banyak yang harus dipersiapkan.

"Karena bangun hybrid kan harus punya pabrik baterai dan segala macam," pungkas Jonfis. (san)

(ton)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming