Image

Datang ke Pesantren Tebuireng, Dubes Inggris Kagumi Islam Indonesia

Zen Arivin, Jurnalis · Kamis 27 April 2017, 18:33 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 04 27 519 1678068 datang-ke-pesantren-tebuireng-dubes-inggris-kagumi-islam-indonesia-9QKXs9wC8T.jpg Dubes Inggris Moazzam Malik saat berziarah ke kompleks makam Tebuireng (Foto: Zen Arivin/Okezone)

JOMBANG - Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Moazzam Malik, mengunjungi Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/4/2017).

Kunjungan Moazzam ke Ponpes Tebuireng ini merupakan bagian dari rangkain safari politiknya di Jawa Timur. Sebelumnya, perwakilan resmi negeri Ratu Elizabeth ini juga mampir ke Pondok Pesantren Gontor, Kabupaten Ponorogo dan Kampung Inggris, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.

Kedatangan Moazam ini mendapat sambutan hangat dari pengasuh Ponpes Tebuireng, KH Salahudin Wahid (Gus Solah). Tampak hadir pula KH Abdul Hakim Mahfud dan istri Gus Solah, Hj Farida Salahudin Wahid.

Baru beberapa saat masuk ke dhalem kasepuhan, Moazzam kemudian melakukan ziarah di komplek pemakaman Ponpes Tebuireng. Di lokasi itu, Moazzam melakukan doa dan tabur bunga di makam pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim, serta KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Saat berdialog dengan Gus Solah, Moazzam mengaku kagum dengan sikap toleransi yang berkembang di Indonesia. Dubes Muslim ini bercerita, dalam menghadapi perkembangan masa depan, Indonesia dianggap paling berhasil membangun sikap saling menghargai antar-umat beragama.

Lelaki berdarah Pakistan tersebut lantas membandingkan Indonesia dengan negara Islam lainnya. Utamanya negara-negara di kawasan Asia Tenggara dan juga Timur Tengah. Menurutnya, Indonesia suskes menumbuhkan rasa toleransi yang cukup besar dalam diri masyarakat.

"Indonesia lebih berhasil menjadi negara yang toleransi dan menghormati kelompok lain, dibanding negara tetangga dan Timur Tengah," kata Moazzam dihadapan Gus Solah, Kamis (27/4/2017).

Menurutnya, ada tujuan lain perihal kunjungan Moazam ke Jawa Timur ini. Ia mengaku ingin belajar Islam ala Indonesia yang mungkin bisa diterapkan di Inggris. Ia juga ingin mendapatkan wawasan dan pemahaman lebih dalam tentang sistem pendidikan Islam dan negeri yang berkembang ini.

Islam Indonesia, lanjut Moazzam, seringkali menjadi buah bibir. Sebab, Indonesia sudah membuktikan diri sebagai negara islam terbesar dengan tingkat konflik yang paling rendah. Dunia mengakui, keberadaan pesantren dan ormas memiliki peran yang cukup signifikan dalam menjadikan menekan radikalisme dan ekstremisme.

"Saya salut dengan pendidikan di pesantren dan ormas seperti NU, Muhammadiyah, yang telah menjaga Islam Indonesia menjadi agama yang santun dan toleransi. Sehingga Indonesia mampu dan berhasil mengatasi ekstremisme dan radikalisme," tambahnya.

Baginya, Indonesia merupakan negara yang penuh dengan toleransi dengan keragaman etnik serta budaya. Tentu saja ini bisa terjadi berkat peran ulama, pesantren, serta ormas yang mengajarkan nilai-nilai persaudaraan, kebersamaan, dan kesatuan.

"Inggris perlu belajar banyak dari Indonesia. Ke depan, Inggris dan Indonesia akan diupayakan bisa menjalin kerjasama lebih intensif agar dapat saling berbagi ide dan pengalaman," terang Moazzam.

Melihat dinamika Indonesia yang luar biasa, Moazzam merasa kagum. Islam di Indonesia jauh berbeda dengan di Inggris. Di Inggris ada sekira 3 juta penduduknya yang beragama Islam atau kurang lebih 5% dari total penduduk.

"Saya berpikir, yang dibutuhkan ke depan adalah komunikasi. Karena persoalan ekstremisme dan radikalisme sudah melintasi batas negara. Maka solusinya yakni juga harus melintasi negara," paparnya.

Maka itu, dalam kesempatan itu Moazza memberikan kesempatan kepada santri dan pemuda Indonesia untuk belajar ke Inggris dengan lewat jalur beasiswa. Hal itu penting guna memperkuat hubungan di antara dua negara. Selain itu, santri di Indonesia bisa menularkan semangat persatuan kepada siswa di negaranya.

"Kita akan meningkatkan kerjasama dengan pesantren terutama bidang pendidikan. Kami ingin menyebarkan dan mempererat hubungan pesantren dan sekolah-sekolah di sana (Inggris)," ungkapnya.

Sementara itu, Pengasuh Ponpes Tebuireng, Gus Solah, membuka lebar tawaran Moazzam tersebut. Menurutnya, setiap santri akan memiliki kesempatan yang sama untuk bisa belajar dan mengenalkan budaya pesantren di Inggris.

"Ini merupakan gagasan yang sangat bagus, dan akan ditindaklanjuti. Semua santri memiliki peluang yang sama. Dengan begini, wawasan yang dimiliki santri akan lebih kaya," pungkas Gus Solah.

(ulu)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini