Mayday, Puluhan Buruh Pekerja Media Berdoa di Makam Marsinah

Solichan Arif, Koran SI · Selasa 02 Mei 2017 02:00 WIB
https: img.okezone.com content 2017 05 02 519 1680754 mayday-puluhan-buruh-pekerja-media-berdoa-di-makam-marsinah-hNhHR4exQ5.jpg Ilustrasi (Dok.Okezone)

NGANJUK - Puluhan aktivis buruh pekerja media yang tergabung dalam Serikat Pekerja Lintas Media (SPLM) Jawa Timur dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kediri menggelar doa bersama di pusara makam Marsinah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk. Ritual berziarah dan berdoa ini dalam rangka memperingati hari buruh sedunia yang jatuh setiap 1 Mei (mayday).

Bagi para buruh, termasuk buruh media yang selama ini luput dari perhatian, perjuangan Marsinah selalu menjadi teladan. “Perjuangan Marsinah tetap hidup disanubari kaum buruh di Indonesia, “ujar Ketua SPLM Jatim Rudy Hartono. Kematian Marsinah genap berusia 24 tahun. Usai memimpin aksi, buruh PT Catur Putra Surya Porong Sidoarjo itu ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan.

Kasusnya menarik perhatian organisasi buruh internasional (ILO) sekaligus menjadikan catatan serius. Atas perjuangan dan pengorbanannya Marsinah juga dianugerahi penghargaan Yap Thiam Hien. Tak heran di setiap may day makam Marsinah selalu diziarahi para aktivis buruh, termasuk pekerja media. Menurut Rudy meski kerap mewartakan nasib buruh, nasib pekerja media tidak jauh lebih dari buruh pabrikan.

Persoalan upah tidak layak, pemutusan hubungan kerja sepihak, serta sistem hubungan kerja yang arogan dan menindas juga mendera para pekerja media. Anton –sapaan akrabnya- biasa disapa mencontohkan status koresponden, kontributor dan stringer sebagai wujud kesewenang wenangan pemilik media terhadap hak normatif buruh yang dilindungi perundangan.

Sekretaris AJI Kediri Fadly Rahmawan mengatakan berserikat atau berorganisasi menjadi satu satunya solusi perlawanan pekerja media. Dengan berserikat pekerja media memiliki nilai tawar, yakni diantaranya upah sesuai UMK, pemberian tunjangan kesehatan, kecelakaan kerja dan kepastian hubungan industrial sesuai dengan perundangan.

Meski tidak sedikit yang dilarang, bahkan beresiko disanksi oleh perusahaan tempat bekerja, aktif berserikat, kata Fadly tidak boleh berhenti. “Sebab penyimpangan ketenagakerjaan masih marak terjadi di perusahaan media. Dan solusi yang paling tepat bagi kawan kawan jurnalis adalah dengan berserikat,“ tegasnya.

(ulu)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini