Kerukunan Masyarakat Singkawang Dibukukan Oleh Malaysia

Ade Putra, Okezone · Minggu 07 Mei 2017 16:03 WIB
https: img.okezone.com content 2017 05 07 65 1685322 kerukunan-masyarakat-singkawang-dibukukan-oleh-malaysia-YXzdw58tA6.jpg Foto: Ade Putra/ Okezone

PONTIANAK - Keharmonisan masyarakat Kota Singkawang, Kalimantan Barat yang dapat hidup rukun ditengah perbedaan agama, yang ditunjukkan dengan adanya kelenteng yang bersebelahan dengan masjid dan gereja, menjadi ketertarikan sendiri bagi warga mancanegara.

Salah satunya Dr. Elena Gregoria Chai Chin Fern, warga Sarawak, Malaysia. Pensyarah Kanan (Dosen Senior) di Jabatan Antropologi dan Sosiologi, Faculty of Social Sciences, Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS) ini tertarik untuk meneliti kehidupan rukun di Kota Amoy tersebut.

Hasil penelitiannya, diulas dalam sebuah buku yang berjudul 'Of Temple and Tatung Tradition in Singkawang'. Dalam buku yang diterbitkan UNIMAS Publisher ini juga mengulas tentang tradisi budaya Tionghoa terkait temple dan upacara serta parade pada acara Cap Go Meh yang melibatkan tatung maupun spirit medium di Singkawang.

Buku yang belum ada dijual di Indonesia ini diserahkan secara resmi kepada Konsulat Jenderal RI Kuching, Jumat, 5 Mei 2017 lalu. "Saya mengapresiasi penulisan buku terkait keharmonisan kehidupan dan kebudayaan Tionghoa di Singkawang ini," kata Konsul Jenderal RI Kuching, Jahar Gultom kepada Okezone, Minggu (7/5/2017) pagi.

Dalam kesempatan itu, lanjut Jahar, dibahas pula terkait potensi pariwisata yang dimiliki Kalimantan Barat untuk menarik wisatawan Sarawak. "Kalimantan Barat kaya akan pariwisatanya, seperti di Kota Singkawang dan kabupaten lainnya. Ini bisa menarik wisatawan Sarawak. Selain itu, masyarakat di Kalimantan Barat juga heterogen," ujarnya.

KJRI Kuching, kata Jahar, menyadari bahwa masyarakat Sarawak memang pangsa pasar yang sangat potensial untuk menjual potensi pariwisata di Indonesia khususnya Kalimantan Barat. Karena bukan hanya Sarawak dan Kalimantan Barat berbatasan darat langsung, tetapi juga akses yang menghubungkan kedua daerah juga semakin baik.

"Kawasan perbatasan sudah dibenahi. Seperti jalan utama di perbatasan sudah diperbaiki. Dengan demikian dapat memudahkan wisatawan Sarawak untuk berkunjung ke Kalimantan Barat," tuturnya.

Sementara itu, Elena Chai mengatakan, penelitian di Singkawang dilakukan selama 8 bulan. Ia bekerja sama dengan Beijing University of Foreign Studies dibawah naungan program 'one belt, one road' Pemerintah RRT. "Kami kagum dengan kehidupan harmonis dan rukun serta kebudayaan yang tinggi di Singkawang," ujarnya.

Ia melanjutkan, untuk sementara buku ini dicetak dalam bahasa inggris. Rencananya akan diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dan bahasa mandarin.

Sabrina Mahili, wakil dari UNIMAS Publisher menambahkan, pada 11 sampai 13 Oktober 2017 nanti pihaknya akan menggelar kegiatan International Conference on Borneo Books Publising & Borneo Book Fair di Kuching. "Kegiatan ini diharapkan dapat menghadirkan 500 peserta dari seluruh kepulauan Borneo dan agar mengetahui tentang keharmonisan dan kebudayaan di Singkawang," katanya.(afr)

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini