Image

Penyebab Pasti Insiden Natuna, TNI AD: Investigasi Masih Berjalan

Lina Fitria, Jurnalis · Kamis, 18 Mei 2017 - 19:16 WIB
foto: antara foto: antara

JAKARTA – Sebuah kecelakaan penggunaan senjata terjadi saat geladi bersih Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Natuna, Kepulauan Riau, Rabu 17 Mei 2017. Kepala Dinas Penerangan Angkatan Datar (Kadispenad), Brigjen TNI Alfret Denny Tuejeh mengaku masih menunggu investigasi lebih lanjut terkait penyebab pasti kecelakaan tersebut.

“Saya belum bisa memberikan keterangan masalah itu karena kan investigasi masih berjalan,” ujar Denny kepada iNews TV, Kamis (18/5/2017).

Oleh sebab itu, ia meminta agar publik bersabar untuk menunggu hasil investigasi tersebut. Denny menyebut, dalam investigasi bakal dicari apakah kecelakaan itu diakibatkan oleh peralatan atau human error.

“Kalau investigasi sudah selesai kan tentu nanti kita akan bisa menyimpulkan apakah terjadi kesalahan pada peralatannya atau pada awaknya. Untuk lebih jelasnya baiknya kita menunggu hasil investigasi,” sambungnya. 

Dikatakan Denny, pada Senin 15 Mei 2017 meriam jenis Giant Bow yang digunakan oleh prajurit Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) itu juga sempat digunakan dalam latihan. Kala itu, tidak ada insiden dan berlangsung dengan lancar.

“Itu nanti akan terjawab setelah pelaksaan investigasi, yang pasti menjelang pelaksanaan latihan geladi bersih kemarin, dua hari lalu juga melakukan penembakan dan berjalan dengan lancar,” terang Denny.

Sementara Arhanud sering menggunakan senjata anti drone tersebut dalam latihan rutin. Denny mengungkapkan, selama setahun dilakukan dua kali latihan penggunaan senjata itu.

“Kalau di TNI AD, terutama di satuan Arhanud ya memakai itu dalam satu tahun paling tidak dia bisa dua kali (latihan), tiap tahun. Itu berjalan terus,” tandasnya.

Seperti diketahui, dalam kecelakan tersebut empat prajurit meregang nyawa. Selain itu, delapan lainnya mengalami luka-luka dan dilarikan rumah sakit di Pontianak, Kalimantan Barat. 

Peristiwa itu bermula saat salah satu pucuk meriam giant bow dari Batalyon Arhanud 1/K yang sedang melakukan penembakan. Namun, senjata tersebut mengalami gangguan pada peralatan pembatas elevasi, sehingga tidak dapat dikendalikan. (sym)

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming