Image

Ungkap Kasus Novel, Polisi Gunakan Metode Induktif-Deduktif, Apaan Tuh?

Ferio Pristiawan Ekananda, Jurnalis · Sabtu, 20 Mei 2017 - 05:02 WIB
Ilustrasi (Foto: Antara) Ilustrasi (Foto: Antara)

JAKARTA - Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Raden Argo Yuwono menyiapkan dua metode penyelidikan untuk mengusut kasus penyiraman air keras kepada penyidik senior KPK Novel Baswedan. Dua metode penyelidikan tersebut yakni dengan cara induktif dan deduktif.

Metode deduktif yang digunakan pihaknya yaitu dengan cara mengumpulkan seluruh bukti-bukti yang ada di lapangan dan melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi. "Dimulai dari TKP kita lihat menemukan titik TKP ada saksi dan barang bukti. Ada itu, CCTV. Kemudian penemuan barang bukti kita dapat informasi ada tiga orang yang berpotensi berinisial H dan M. Kita sudah lakukan, alibinya itu kita telusuri ke mana saja dia. Misal, dia ke bandara pesawat kita liat CCTV, boarding pass. Ke warung pun kita periksa. Makan di mana. Ke ATM pun dicek ada CCTV nya," ucapnya di KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat 19 Mei 2017.

Sementara itu, metode induktif yang akan dilakukan polisi yakni, dengan cara mengumpulkan seluruh kasus yang pernah ditangani Novel Baswedan selaku Kasatgas Penyidikan di KPK. "Kasus yang ditangani Novel ini dapat berpotensi menjadi teror penyiraman air keras. Namun memang, belum ada tersangka dalam kasus ini," ujar Argo.

Karena itu, pihaknya ingin mengoordinasikan segala sesuatu yang berkaitan dengan kasus Novel kepada pihak KPK. Hal itu dilakukan agar informasi di antara kedua lembaga penegak hukum tersebut semakin mempermudah dan mempercepat pengusutan kasus teror Novel.

Dalam kasus teror ini, jajaran Polda Metro Jaya sudah bolak-balik mengamankan sejumlah orang. Namun, belum ada dari orang-orang tersebut yang mengarah sebagai dalang maupun pelaku teror penyiraman air keras ke penyidik KPK, Novel Baswedan.

Tercatat, dua orang yang pernah dimintai keterangan adalah Hasan dan Muklis yang diketahui sebagai ‘mata elang’ dan cepu dari polisi untuk informasi kasus pencurian kendaraan bermotor. Selanjutnya, pria berinisial AL yang diketahui sebagai sekuriti di tempat spa di wilayah Jakarta Barat. Lalu, Niko Panji Tirtayasa alias Miko yang diperiksa merujuk video viral-nya di media sosial.

Dalam video berdurasi 2.40 menit tersebut, Miko meminta maaf kepada pamannya Mochtar Effendi atas kejahatannya menjadi saksi palsu di KPK untuk kasus yang menjerat pamannya dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar. Kala memberikan kesaksian, Miko mengaku dinterograsi Novel Baswedan cs.

Sekadar informasi, Novel Baswedan mendapatkan teror penyiraman air keras oleh orang tidak dikenal usai menjalankan salat subuh di sebuah Masjid dekat rum‎ahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Selasa, 11 April 2017, lalu. Akibatnya kejadian itu, Novel mengalami kerusakan mata yang cukup parah. 

(ran)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming