Image

Pencabul Anak di Medan Divonis 6,5 Tahun Penjara

Erie Prasetyo, Jurnalis · Selasa, 23 Mei 2017 - 22:06 WIB
Ilustrasi Ilustrasi

MEDAN - Pelaku pencabulan anak berinisial JL (20) dihukum selama 6,5 tahun kurungan penjara oleh majelis hakim di ruang Cakra III, Pengadilan Negeri (PN) Medan, Sumatera Utara, Selasa (23/5/2017) sore.

JL didakwa telah mencabuli bocah Bunga (16), bukan nama sebenarnya, warga Kecamatan Sunggal, Deliserdang hingga melahirkan seorang bayi laki-laki.

"Terbukti secara sah terdakwa melakukan perbuatan cabul terhadap anak di bawah umur. Menjatuhkan hukuman selama enam tahun dan enam bulan penjara," ujar Ketua Majelis Hakim, Ahmad Sayuti di hadapan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Irma Hasibuan dan terdakwa.

Dalam sidang yang berlangsung tertutup tersebut, JPU Irma menyatakan pikir-pikir. Putusan itu sendiri lebih rendah dari tuntutannya yakni selama 8 tahun 6 bulan penjara.

Sementara itu, terdakwa dengan rasa kesalnya mengatakan banding. "Bukan saya yang menghamilinya Pak Hakim. Saya berani tes DNA terhadap bayi yang lahir tersebut. Saya korban kriminalisasi," terang JL.

Melihat situasi yang sudah tidak kondusif, selanjutnya terdakwa JL diboyong kembali ke dalam sel tahanan sementara PN Medan.

Diwawancarai usai sidang, Sufen (56) ibu terdakwa mengaku akibat kejadian ini, suaminya sampai meninggal dunia.

"Awal kejadiannya saat anak saya (JL) kenalan melalui BBM, Line dan WA dengan korban pada tahun 2014 lalu. Keduanya tak pernah bertemu. Pada akhir tahun 2015 anak saya bekerja ke Malaysia. Rupanya baru 20 hari bekerja di sana, si korban menelpon dan cerita sedang ada masalah keluarga. Awal tahun 2016 anak saya pun pulang ke Indonesia," ujar Sufen dengan mata berkaca-kaca.

Selanjutnya mereka bertemu. Keduanya pun menginap di rumah selama 4 hari. Berselang 3 bulan kemudian, pihak keluarga korban datang ke rumah kami. Katanya anaknya sudah hamil. Disepakati dinikahkan," sambungnya.

Selama proses menjelang pesta pernikahan, terdakwa JL merasa janggal dengan janin yang sedang dikandung korban. Dia dan keluarganya pun meminta tes DNA.

"Sakit hati atau entah cemana, dilaporkannya ke Polda Sumut. Hingga akhirnya anak saya pun diproses hukum. Tapi yang menjadi tanda tanya bagi keluarga kami, kenapa hakim menghukum JL hanya berdasarkan hasil visum et revertum dari RS Bhayangkara saja. Kami minta keadilan buktikan dulu DNA bayi tersebut," tutupnya sembari mengatakan akan terus memperjuangkan hukuman anaknya hingga Kasasi dan Peninjauan Kembali.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming