Kisah Muslim di Berbagai Negara Hadapi Tantangan Ramadan

Silviana Dharma, Okezone · Minggu 11 Juni 2017 07:05 WIB
https: img.okezone.com content 2017 06 04 18 1707414 kisah-muslim-di-berbagai-negara-hadapi-tantangan-ramadan-83cV5uBX1h.jpg Anak perempuan memakai tradisional Qatar saat perayaan Ramadan Garangao. (Foto: Marhaba)

RAMADAN punya sejuta kisah. Bukan melulu soal ibadah, ada juga soal kebersamaan dan toleransi yang wajib dilestarikan.

Inggris

Katerina Nordin (25) merayakan bulan suci di Inggris saat musim panas. Bayangkan, berapa lama dia harus menahan rasa lapar dan haus. Dan meski dehidrasi, dia harus tetap bekerja delapan jam sehari, dari pukul 09.00 sampai pukul 17.00.

Pernahkah dia tergoda untuk membatalkan puasanya? Godaan itu selalu datang, hari terasa berat baginya. Apalagi ketika tengah hari, otaknya benar-benar kepayahan. Kalimat di kepala dan bibir mulai tidak seirama.

Baru ketika berbuka puasa, dia mendapatkan semangatnya kembali. Akan tetapi, waktu menuntutnya untuk beristirahat. Ironi memang.

Bus khusus Ramadan di Inggris. (Foto: Islamic Relief)

Namun begitu, Katerina meyakinkan dia tidak pernah menyesal menunaikan ibadah puasa di Negeri Ratu Elizabeth. Menurut dia, Ramadan memiliki cara khusus untuk menyoroti hal-hal yang selama ini tidak disadari. Selain juga menjadi kesempatan untuk setiap orang memperbaiki diri dengan cara yang halus dan jelas.

Ia banyak belajar bahwa Ramadan adalah saat yang tepat untuk saling mendukung satu sama lain, mewujudkan ketulusan, kesabaran dan bersyukur atas setiap berkah kecil yang diperoleh.

“Waktu berpuasa yang panjang dan melelahkan seperti tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan manfaat dari bulan ini,” ujarnya, seperti dikutip dari The Yemen Times, Minggu (11/6/2017).

Seorang Muslim bernama Asma Rafiq (24) juga merasakan keistimewaan Ramadan di Negeri Tiga Singa. Meskipun mayoritas orang Inggris adalah non-Muslim, tetapi mereka punya antusiasme yang sama dengan mereka yang Muslim.

Beberapa teman kerja Rafiq bahkan mencoba berpuasa juga. “Walaupun mereka seringnya batal, tetapi setidaknya mereka sudah mencoba,” ucapnya.

Seperti Nordin, Rafiq juga sering kelelahan saat berpuasa. Pada masa seperti itu, bos dan teman-temannya akan mengerti. Mereka juga berhenti membahas soal makanan di depannya. Untuk minum pun sembunyi-sembunyi. Bahkan, teman-teman yang tadinya suka bicara kasar dan menyumpah akan menahan lidahnya di depan orang yang sedang berpuasa.

“Di situlah Ramadan menjadi pengalaman bersama yang indah, baik untuk kaum Muslim dan non-Muslim. Dan Inggris memperlihatkan bagaimana negara itu setiap tahun menjadi salah satu negara non-Muslim terbaik untuk orang Islam,” terangnya.

Kanada

PM Kanada berbuka puasa bareng warga Muslim.

Menjalankan puasa di negara berpenduduk mayoritas non-Muslim juga terasa berat bagi Ziad (65). Siang hari terasa panjang dan teman sesama Muslim untuk mendukungnya berpuasa jarang ditemukan.

“Di tempat tinggal saya, saya bisa ketemu sesama Muslim kalau pergi ke masjid. Tapi kami juga jarang ke masjid, jadi sulit untuk melihat perubahan tradisi orang-orang di sini,” tuturnya.

Situasi itu membuatnya rindu merayakan Ramadan di negara asalnya, Suriah. Meskipun dia tidak sangat relijius, tetapi atmosfernya lebih menyenangkan. Demikian juga budaya dan aktivitasnya beragam selama bulan suci.

Skotlandia

Awais Munawar (25) mengatakan, satu-satunya hal yang unik tentang Ramadan di Skotlandia adalah jam puasanya yang panjang. Ada kalanya, dia berpuasa mulai pukul 03.30 dan baru buka puasa pada pukul 22.15.

“Sulit untuk mendapatkan semangat dan mempertahankan keyakinan kita. Di masyarakatnya sendiri tidak ada perubahan berarti, karena sebagian besar memang tidak merayakannya,” paparnya.

Akan tetapi, mereka tetap memfasilitasinya untuk berpuasa. Bahkan manajernya sering memberikan waktu beristirahat ekstra dan membebankan pekerjaan yang lebih mudah saat dia berpuasa.

Praktik toleransi ini diakui Munawar sangat bagus. Berlatih Ramadan di tanah kelahirannya, Pakistan, sama sekali berbeda. Semua orang merasakan hal yang sama, pergi beribadah ramai-ramai dan berpuasa karena memang kebanyakan mengimani ajaran yang satu.

Pakistan

Seperti terjadi di banyak negara Muslim sekalipun, kebanyakan orang mendadak jadi relijius selama Ramadan. Demikian kata Bilal Qureshi dari Pakistan. Pemuda berusia 25 tahun itu menceritakan bagaimana mobil-mobil pribadi berjubel memadati area masjid, tetapi hanya setiap bulan puasa. Pada bulan lain, biasanya masjid penuh setiap Jumat saja.

Mirip di Indonesia, harga-harga akan melambung menjelang hari raya lebaran. Pemerintah Pakistan terutama selalu gagal untuk mengendalikan harga kebutuhan dasar, seperti tepung.

“Tidak ada rumah makan yang diperbolehkan berjualan pada siang hari. Jadi jika Anda bukan Muslim atau tidak berpuasa, berarti Anda harus menyiapkan sendiri santapan Anda di rumah,” bebernya.

Terlepas dari semua itu, Qureshi senang menjalani Ramadan. Sebab banyak orang memanfaatkannya untuk berkumpul bersama keluarga. Saudara-saudaranya akan datang berkunjung. Mereka juga sempat-sempatnya bermain kriket bareng sambil menunggu sahur.

Maroko

Maroko termasuk negara Islam di Afrika. Starzeus Hassan (24) menuturkan, di negaranya ini kebanyakan orang akan beramal selama Ramadan. Bahkan banyak restoran, kafe, keluarga dan masjid membagikan makanan gratis untuk berbuka puasa dan sahur.

Bangladesh

Nabila Ishrat Jahan (25) menggambarkan kemeriahan Ramadan di Bangladesh dengan satu kata: macet. Kepadatan itu terjadi karena orang-orang memanfaatkan masa ini untuk belanja dan jajan di pinggir jalan.

“Ramadan juga menghidupkan kebajikan Islam di penjuru negeri. Masjid penuh, jam kerja berkurang, sekolah tutup selama sebulan, musik keras dibungkam dan banyak lagi,” urainya.

Bagian Ramadan paling menakjubkan di Bangladesh, baginya terjadi ketika orang-orang bergegas pulang ke rumah. Dengan memerangi kemacetan lalu lintas. Pemandangan itu luar biasa mengerikan, kata Jahan. Semua orang tumpah ke jalan bersama kendaraan mereka demi berbuka puasa bersama keluarga.

“Indahnya lagi, non-Muslim pun kadang ikut makan buka puasa dan sahur dengan kami. Secara keseluruhan, Ramadan di Bangladesh membawa orang-orang mendekatm, terlepas dari agama, ras dan ritual,” tambahnya.

Jerman

Ussama Al Khalil (29) mengaku sempat kesulitan beradaptasi di Jerman, sewaktu baru pindah dari Suriah. Terutama saat bulan puasa datang. Kini dia sudah melampaui masa-masa itu dan menjadi seorang atlet.

Teman-temannya kaget ketika dia tetap berlatih di siang hari, tanpa mengisi perutnya lebih dulu. Atau meminum setetes pun air. Apalagi Ramadan di Jerman juga tergolong panjang, karena jatuh pada musim panas.

“Dari sini, saya melihat Ramadan sebagai pertandingan untuk menguji mana yang lebih kuat, saya atau nafsu saya,” tukasnya.

Tahun lalu, teman sekamarnya terkejut bukan kepalang menyaksikan Khalil bersepeda 100 kilometer sehari padahal lagi puasa. Mereka tidak percaya dan memutuskan untuk ikut mencoba berpuasa keesokan harinya.

“Setelah berbuka puasa bersama, dia merasa bangga dan ketagihan. Dia berpuasa bersama saya selama sepekan ke depannya. Itulah solidaritas,” pungkasnya.

as,” pungkasnya.
1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini