nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Otak Pelaku Penipuan Ngaku sebagai Panitera di MA

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Selasa 13 Juni 2017 15:58 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 06 13 338 1715010 otak-pelaku-pemerasan-ngaku-sebagai-panitera-di-ma-v8Yk85WPfm.jpg Foto Ilustrasi Okezone

JAKARTA - Otak pelaku pemerasan di Mahkamah Agung (MA) dan Komisi Yudisial (KY), Agus Surya mengaku baru sekali melakukan aksi pemerasan di dua lembaga tinggi hukum itu.

"Baru sekali. Sekali operasi ongkosnya Rp350 Juta tergantung kasusnya," kata Agus di Mapolres Jakarta Pusat, Selasa (13/6/2017).

Agus juga mengaku sebagai panitera di MA dan memiliki dua staf yakni, Sahrudin dan Ridwan. para staf tersebut ditugaskan untuk mencari korban.

"Kita cari-cari, biasanya korban rata-rata kasus Tata Usaha, kita nawarin mau dibantu atau tidak. kalau setuju kita nego (ongkosnya)," pungkasnya.

Sebelumnya, Polres Metro Jakarta Pusat berhasil mengungkap aksi kejahatan penipuan yang bermoduskan sebagai penegak hukum. Para pelaku menawarkan jasa makelar hukum dengan imbalan ratusan juta. Para pelaku yang diamankan adalah Agus Surya, Ridwan, dan Sahrudin.

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Suyudi Arie Seto mengatakan, pelaku diketahui sudah melakukan aksinya sebanyak tiga kali. Korbannya, kata Suyudi, adalah yang punya persoalan hukum di Mahkamah Agung (MA) sehingga menjadi sasaran empuk para pelaku.

Mereka awal mulanya mencari data orang yang memiliki masalah hukum. Kemudian, para mendapati NN dan langsung menelefonnya dan menawarkan jasa menyelesaikan persoalan-persoalan NN.

Pada awalnya, NN mempercayai tawaran para penipu, bahkan kedua belah pihak sempat negosiasi ongkos jasanya sekira Rp350 juta. Setelah sepakat, akhirnya NN dan pelaku janjian di sebuah Hotel Rivoli kawasan Senen, Jakarta Pusat.

Namun, saat di perjalanan pelaku menelefon korban bahwa dirinya tidak bisa menemuinya sehingga diwakili. Pelaku Agus meminta uang tanda jadi sekira Rp17 juta terlebih dahulu. Rupanya, NN merasa curiga dengan gerak-gerik para pelaku, sehingga melaporkan kepada pihak kepolisian.

Dari tangan pelaku, polisi menemukan uang sebesar Rp10 juta, Kartu Tanda Pengenal Mahkamah Agung (MA) dan Komisi Yudisial (KY) palsu.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini