nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lansia di Korsel Jadi Garda Terdepan Menentang Sistem Antirudal THAAD

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Jum'at 16 Juni 2017 14:08 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 06 16 18 1717802 lansia-di-korsel-jadi-garda-terdepan-menentang-sistem-antirudal-thaad-y6J3j2Mf0M.jpg Puluhan lansia menjadi garda terdepan untuk memprotes penempatan sistem antirudal THAAD di Soseong, Korsel (Foto: Kim Hong-ji/Reuters)

SOSEONG – Usia lanjut tidak menghalangi puluhan nenek untuk berjuang melawan penempatan sistem pertahanan antirudal THAAD (Terminal High Altitude Area Defense). Para nenek pemberani itu menjadi garda terdepan dalam aksi unjuk rasa di Desa Soseong, Seongju, Korea Selatan (Korsel).

(Para nenek pemberani dihadang oleh polisi. Foto: Kim Hong-ji/Reuters)

Puluhan wanita lanjut usia (lansia) itu mengacung-acungkan tongkat dan payung ke arah helikopter militer serta berteriak meminta mereka untuk pergi setiap kendaraan perang itu melintas di Soseong. Para lansia itu menuntut kembali kedamaian di desa seperti sebelumnya.

“Saya tidak bisa tidur. Saya harus minum obat tidur tetapi hanya bisa tidur dua jam setiap malam. Saya bisa mendengar generator pembangkit THAAD berbunyi di waktu malam,” ujar nenek bernama Na Wi-bun, seperti dimuat Reuters, Jumat (16/6/2017).

Nenek berusia 87 tahun itu setiap hari pergi ke gedung dewan kota. Tempat tersebut dijadikan pusat perkumpulan sekelompok perempuan beserta kelompok sipil yang menentang penempatan THAAD.

“Di siang hari, kami biasanya bertani, sekarang kami pergi ke dewan kota. Sekarang tidak ada siang atau malam bagi kami. Saya tinggal di gedung dewan sekarang,” tutur Do Geum-ryeon. Sebagai informasi, sebagian besar penduduk desa Soseong berprofesi sebagai petani chamoe, buah melon khas Korea.

Nenek berusia 61 tahun itu mengaku mendapat memar ketika berupaya menghentikan truk-truk militer AS yang membawa komponen THAAD pada April lalu. Nenek Do, yang tinggal di desa itu sejak 61 tahun lalu, tetap akan berjuang agar THAAD dipindahkan meski napasnya mulai tersengal.

“Saya melihat perjuangan ini setidaknya dua tahun, maksimal lima tahun. Jika ini berakhir hanya dalam waktu satu-dua hari, kita akan melawan dengan keras. Tetapi, kita menghemat energi untuk perjuangan jangka panjang,” ujar Kepala Desa Soseong, Lee Seok-ju.

Penduduk desa lainnya, Kim Jeom-sook, mengaku THAAD tidak akan banyak berpengaruh terhadap Korsel. Jika Korea Utara (Korut) memang ingin menyerang Negeri Ginseng dengan rudal-rudalnya, Pyongyang mampu menjadikan wilayah tersebut lautan api.

“Jika Korut ingin boom boom boom (menirukan suara bom), mereka bisa menyerang di mana saja dan menciptakan lautan api. Saya yakin area ini akan berubah seperti yang mereka inginkan,” kata Kim Jeon-sook.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini