nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Puasa di China, Tantangan Cuaca Panas dan Salat Tarawih di Tangga

Rufki Ade Vinanda, Jurnalis · Senin 19 Juni 2017 17:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 06 18 18 1719199 puasa-di-china-tantangan-cuaca-panas-dan-salat-tarawih-di-tangga-jAvv4AvmFY.jpg WNI Muslim menjalani Ramadan di China. (Foto: Istimewa)

UMAT Islam di China menjalani ibadah puasa dengan waktu lebih panjang ketimbang Muslim di Indonesia. Hal ini tentu saja menjadi tantangan tersendiri khusunya bagi warga negara Indonesia (WNI) yang tengah menetap di sana, baik itu untuk bekerja maupun tengah menempuh pendidikan.

Berbicara mengenai tantangan menjalani ibadah puasa Ramadan di Negeri Tirai Bambu, seorang WNI yang tengah menempuh pendidikan S-2 di Zhejiang University, Fadlan Muzakki membagikan cerita suka duka di negeri Panda.

Subuh di China diketahui jatuh sekira pukul 03.00 dini hari waktu setempat sementara waktu berbuka puasa tiba sekira pukul 19.00 malam. Muslim di China menjalani puasa rata-rata sekira 16 sampai dengan 17 jam. Selain waktu yang lebih panjang, kondisi geografis juga menjadi salah satu tantangan lainnya.

Pria yang baru pertama kali menjalani ibadah puasa di China itu menyebut, bulan suci Ramadan tiba bertepatan dengan hadirnya musim panas. Suhu di China bisa mencapai 35 derajat celcius yang tentunya lebih panas dari Ibu Kota Jakarta.

Selain udara panas, Fadlan yang kini tengah menetap di Hangzhou mengaku kesulitan untuk beribadah salat tarawih berjamaan di masjid akibat terkendala jarak. Tidak seperti di Indonesia di mana kita dengan mudah bisa menemukan masjid di mana pun, di Negeri Tirai Bambu yang penduduknya mayoritas non-Muslim tentunya masjid sukar dijumpai.

Mahasiswa Muslim di China menjalani ibadah salat tarawih di tangga dormitori. (Foto: Istimewa)

"Salat tarawih jauh ke masjid karena makan waktu 2 jam, kalau pulang pergi jadi 4 jam. Jadi kita-kita yang Muslim bikin salat tarawih sendiri di dormitori. Nah karena kegiatan agama di sini enggak boleh sembarangan, jadi kadang-kadang kita salat tarawih berjamaah di tangga dan atau di ruang bawah tanah di dormitory. Tarawihnya bisa dari lantai 5 sampai lantai 10," ujar pria yang memiliki hobi membaca itu kepada Okezone belum lama ini.

Meskipun penuh dengan tantangan, Fadlan mengaku jika hal tersebut justru mendorongnya lebih bersemangat dalam menjalani ibadah.

"Jadi terasa banget ibadahnya di sini," tegasnya.

Meski berpuasa di negeri orang dituntut untuk ekstra sabar dan penuh perjuangan karena dituntut untuk menyesuaikan diri, bukan berarti tidak ada suka yang dirasakan oleh Fadlan. Ia menuturkan, banyak hikmah yang didapatkan saat berpuasa jauh dengan keluarga salah satunya bisa menjalin silaturahim yang lebih erat dengan saudara Muslim lainnya yang tak hanya berasal dari Indonesia.

"Sukanya di sini jadi merasa dekat sama teman-teman yang sama-sama Muslim dari negara lain dan Indonesianya. Jadi sering ketemu di buka puasa bersama dan kadang bahkan kita sahur bersama ," terang Fadlan.

Ia menambahkan, berpuasa di China saat ini sudah banyak kemudahan karena tersedianya restoran Muslim yang menyajikan makanan halal dan tetap buka ketika waktu sahur tiba. Bahkan jasa katering dan kantin untuk makanan halal juga disediakan kampus tempatnya belajar.

Mahasiswa Muslim di China berbuka puasa bersama. (Foto: Istimewa)

"Untungnya beberapa restoran atau tempat makan di sini juga pengertian, khususnya restoran Muslim. Jadi pas sahur mereka tetap buka dan dapat menu spesial setiap sahur. Misalnya, porsinya yang lebih banyak, ada hidangan pembuka dan penutup. Dikasih tradisional teh dan lain-lainnya. Dan tiap kali kita datang ke masjid selalu ada buka pusa bersama jadi selalu dapat makanan gratis. Cuma agak lebih ke timur tengah makanan berbukanya. Kayak kurma, kismis, teh khas Tiongkok dan beberapa makanan mirip oleh-oleh dari orang pergi haji," papar pria kelahiran 4 Desember 1990 itu.

Dan yang paling membuat ibadah puasa di China semakin menarik adalah toleransi dan kepedulian antarsesama khususnya dari para perantau yang dirasakan Fadlan. Ia mengaku kerap mendapat kiriman makanan baik itu dari itu dari temannya yang merupakan pemeluk agama Islam maupun yang non-Muslim.

"Saya pernah dapat kurma dari teman asal Yaman, lalu dapat juga teh untuk berbuka puasa dari teman Afghanistan, lalu makanannya diberi teman asal Myanmar, Jepang, Korea," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini