nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

OKEZONE STORY: Kisah Haeneyo 'Putri Duyung' Generasi Terakhir di Negeri Ginseng

Rufki Ade Vinanda, Jurnalis · Senin 19 Juni 2017 08:00 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 06 18 18 1719283 okezone-story-kisah-haeneyo-putri-duyung-generasi-terakhir-di-negeri-ginseng-yVBBgOsWF7.jpg Putri Duyung Korsel 'Haeneyo'. (Foto: The Vintage News)

SELAMA berabad-abad Haeneyo atau yang disebut juga sebegai 'perempuan laut' dari provinsi Jeju, Korea Selatan (Korsel) telah menyelami dalamnya lautan untuk mencari nafkah agar bisa mengisi perut kosong mereka. Para Haeneyo itu menyelam untuk mencari hewan laut seperti abalon, kerang, dan gurita.

Meskipun sekilas hal tersebut terdengar seperti sesuatu yang mudah dengan segala peralatan selam modern yang tersedia saat ini. Tapi Haeneyo tidak pernah menggunakan peralatan-peralatan tersebut. Haeneyo juga dikenal sebagai Mermaid Korea atau putri duyung. Para putri duyung di Negeri Ginseng itu mampu menyelam hingga kedalaman 20 meter di bawah laut dan menahan napas selama dua menit setiap kali beraksi.

 

Putri Duyung Korsel (Foto: The Vintage News)

Seperti dilansir New Yorker, "perempuan laut" dari Jeju memakai topeng scuba berbentuk seperti lampu depan sebuah motor. Kemudian sebuah timah diikatkan pada pinggang mereka guna menambah bobot agar mereka bisa menyelam lebih cepat. Selain itu terdapat sebuah perangkat mengapung guna menampung hasil perburuan mereka yang disebut tewak. Mereka juga menggunakan berbagai alat untuk memudahkan mengambil para hewan laut yang diburu.

Penyelaman di Jeju merupakan salah satu tradisi yang paling menarik di Korsel dan telah dimulai sejak tahun 434 Masehi. Pada awalnya, tradisi ini dipandang sebagai pekerjaan kaum adam. Namun, pada awal abad 17, para laki-laki di Korsel cenderung menghabiskan waktu mereka untuk berjudi. Hal ini kemudian menjadikan para perempuan harus menjadi pencari nafkah utama di keluarga mereka.

Tetapi beberapa catatan sejarah menunjukkan penjelasan yang berbeda tentang bagaimana tradisi ini mulai. Sumber lain menyebut, pada abad ke-17 sejumlah besar pria meninggal di laut karena kecelakaan perang atau penangkapan ikan, hingga akhirnya menyelam menjadi pekerjaan perempuan.

Para perempuan Jeju tidak punya pilihan lain kecuali menyelam ke air dingin, dan banyak di antara mereka menyelam dalam kondisi hamil. Sebagian besar hasil perburuan para putri duyung diberikan kepada Raja Korea sebagai bentuk penghormatan. Lalu pada 1910, ketika orang Jepang menduduki Korea, praktik ini telah dihapuskan dan Haeneyo bebas untuk menjual hasil panen mereka di pasar.

Selama bertahun-tahun, menyelam menjadi profesi yang menguntungkan dan secara drastis mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Sebagian besar dari mereka bahkan dipekerjakan oleh pedagang Jepang untuk bekerja sebagai buruh upahan di Negeri Sakura. Sisa Perang Dunia (PD) II pada 1945 membuat kekuasaan Jepang di Korea berakhir. Tetapi para penyelam perempuan terus menjadi bagian integral dari ekonomi Jeju.

Putri Duyung Korsel (Foto: The Vintage News)

Menalnsir New York Times, sebanyak 21% perempuan di Jeju menjadi penyelam profesional pada 1960-an. Tradisi ini diwariskan dari ibu ke anak perempuan selama bertahun-tahun, namun karena pekerjaannya sangat sulit dan berbahaya, banyak perempuan muda menolak untuk bekerja sebagai penyelam laut dan lebih memilih untuk bekerja di hotel atau resor.

Penjelasan lain menunjukkan bahwa alasan utama mengapa penyelaman Jeju dilakukan oleh perempuan adalah karena kaum hawa lebih mampu mentolerir air dingin daripada laki-laki akibat persentase lemak tubuh yang lebih tinggi. Kemudian sumber terakhir menyebut Raja Korea mengerahkan para pria untuk menjadi tentara, namun masih mewajibkan perempuan untuk tetap membayar pajak.

Meski putri duyung sangat mandiri, tetap saja kaum pria yang mengisi semua peran kepemimpinan politik. Dan penyelam perempyan Jeju sering dilarang bepergian ke luar desa mereka atau menunjukkan kulit mereka. Pada awalnya para putri duyung menyelam menggunakan baju setelan katun buatan tangan untuk menyelami perairan samudera yang membeku.

Perubahan barulah terjadi pada 1970-an ketika pakaian selam modern tersedia. Perubahan ini memungkinkan mereka menyelam lebih dalam dan menghabiskan lebih banyak waktu di bawah air, sehingga meningkatkan pendapatan mereka. Tapi menghabiskan lebih banyak waktu di bawah air juga membawa banyak risiko dan masalah kesehatan bagi Haeneyo dan wanita perlahan-lahan meninggalkan tradisi menyelami lautan.

 

Putri Duyung Korsel (Foto: The Vintage News)

Pada 1960-an diketahui tersapat sekira 26 ribu putri duyung. Namun, saat ini jumlahnya kurang dari 4.500 orang. Pemerintah Jeju berjuang untuk menjaga tradisi ini tetap hidup, namun gadis muda saat ini tak ada yang tertarik menjadi putri duyung. Kini hanya tradisi Haeneyo telah dipegang oleh para generasi terakhir tanpa adanya penerus.

Kim Mijoo seorang seniman visual Korea, mengatakan kepada Huffington Post bahwa haenyo membawa warisan Korea dan akan menjadi yang terakhir. Pemerintah Jeju melanjutkan perjuangannya untuk menyelamatkan tradisi ini dan mereka meminta UNESCO menambahkan Haeneyo ke dalam daftar Warisan Budaya Takbenda beberapa tahun. Namun tradisi putri duyung ini kemungkinan tidak akan ada lagi di masa depan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini