Image

Kemenag Minta Kebijakan Full Day School Tak Matikan Madrasah

Foto: Ilustrasi Okezone

Foto: Ilustrasi Okezone

PEKANBARU - Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Riau meminta, kebijakan lima hari sekolah atau full day school tidak mematikan sekolah pendidikan agama atau madrasah.

"Kita berharap, kebijakan itu (full day school) tidak mengurangi peran madrasah di Riau," ucap Kepala Kemenag Provinsi Riau, Ahmad Supardi Hasibuan di Pekanbaru, Senin (19/6/2017).

Ia menyebut, waktu normal pembelajaran di sekolah dimulai dari pukul 07.00 WIB sampai 14.00 WIB. Belajar di madrasah diniyah dari pukul 15.00 WIB hingga 18.00 WIB, dan di rumah pada malam hari.

Seperti Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) secara umum merupakan milik masyarakat setempat, dan dibiayai sepenuhnya oleh mereka.

Keberadaan MDTA telah terbukti dan teruji dalam membina serta mendidik anak-anak di bidang pendidikan agama, karena di sekolah mereka cuma mendapatkan sedikit yakni tiga jam pelajaran agama dalam sepekan.

"Jika bukan hal ini yang diterapkan, maka full day school ini akan mematikan MDTA dan madrasah diniyah. Jumlahnya madrasah cukup banyak, dan berada di setiap masjid di Riau," katanya.

Menurutnya, kebijakan pemerintah mulai tahun ajaran 2017/2018 akan memberlakukan kegiatan belajar penuh satu hari bagi anak usia sekolah bertujuan baik, terutama di daerah.

Pihak sekolah akan lebih meningkatkan kualitas pendidikan dengan mengoptimalkan dan secara bersama-sama menerapkan tiga basis pendidikan yakni sekolah, lalu di rumah atau keluarga, dan lingkungan.

Sebab, katanya, pendidikan tidak cuma diberikan sekolah atau madrasah saja, melainkan didapat dari tempat tinggalnya, dan lingkungan sekitar turut mempengaruhi pola pikirnya.

"Kalau ini dimaksudkan, maka full day school sangat bagus. Anak didik bisa tetap belajar di MDTA, pondok pesantren, madrasah diniyah, dan yang sejenis," tegasnya.

(sus)
Live Streaming
Logo
breaking news x