Image

Polres Kotabaru Sita Satu Ton Beras Berlabel Palsu

ant, Jurnalis · Selasa, 20 Juni 2017 - 11:23 WIB
Ilustrasi. (Foto: Okezone) Ilustrasi. (Foto: Okezone)

KOTABARU - Satuan Tugas Pangan Polres Kotabaru, Kalimantan Selatan menyita sekira satu ton beras dari seorang pengusaha di Pasar Kemakmuran karena menggunakan label yang tidak sesuai dengan isinya.

Kapolres Kotabaru, Ajun Komisaris Besar Polisi H Suhasto mengatakan, pemilik Toko Nusa Wijaya berinisial Fn membeli beras dari penggilingan padi UD Nurmadinah di Sulawesi Barat. Lalu beras dikemas dengan karung bertuliskan Beras Slyp Super Cap Ikan Lele Super yang merupakan merek beras asal Cianjur yang terkenal dan laris di pasaran.

"Kami menerima informasi dari masyarakat, kemasannya dipalsukan. Kemudian dilakukan penyelidikan, betul ini bukan beras dari Jawa, tapi dari Sulbar," ujarnya di Kotabaru, Selasa (20/6/2017).

Mengutip keterangan Fn, Suhasto mengungkapkan, kemasan karung beras berkapasitas 10 kg dan 20 kg itu dibeli dari produsen di Surabaya. Karung-karung beras itu dikirim ke UD Nurmadinah, yang kemudian mengirimkan beras yang telah dikemas untuk dipasarkan di Kotabaru.

"Pada kemasan karung terdapat keterangan yang menyatakan beras berasal dari padi pilihan yang diproses dengan mesin modern dan kualitas terjamin. Namun pemilik toko tidak pernah langsung melihat pengolahan beras tersebut, sehingga tidak bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya," katanya.

Perbuatan Fn telah melanggar Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Pasal 62 (1) juncto Pasal 8 (1) huruf d, e dan g.

Pelaku usaha melanggar ketentuan menjual barang tidak sesuai dengan kondisi, jaminan, mutu dan proses pengolahan sebagaimana dinyatakan dalam label. "Ditambah lagi di kemasannya tidak mencantumkan tanggal kedaluwarsa," imbuhnya.

Dalam penggeledahan di UD Mitra Mas, Satgas Pangan Polres Kotabaru mengamankan barang bukti 3.054 lembar karung baru bertuliskan Beras Slyp Super Cap Ikan Lele Super kapasitas 20 kg, 506 lembar karung baru kapasitas 10 kg, sebuah mesin penjahit karung, serta timbangan.

Sementara dari sejumlah toko, aparat menyita total satu ton beras yang terdiri atas 54 karung masing-masing seberat 20 kg. "Dari hasil penjualan beras, pemilik toko mendapat keuntungan Rp5.000-Rp7.000 per karung," kata Suhasto.

Ia menambahkan, kasus itu masih dalam tahap penyelidikan. Untuk sementara pemilik toko berstatus terlapor dan hanya dikenai wajib lapor karena barang bukti sudah disita dan diamankan. Kalau sudah lengkap dan cukup kuat, penanganan kasus akan ditingkatkan ke penyidikan dalam waktu secepatnya.

"Jika terbukti, pelaku terancam pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak Rp2 miliar," kata Suhasto.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming