nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ramadan di Negeri Orang, Muslim Berbagai Negara Janjian Ibadah via Grup Chat

Silviana Dharma, Jurnalis · Rabu 21 Juni 2017 22:02 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 06 21 18 1721853 ramadan-di-negeri-orang-muslim-berbagai-negara-janjian-ibadah-via-grup-chat-M707FL2hV2.png Ilustrasi. Chat Group WA. (Foto: Tec Fever)

SHANGHAI – Asyiknya merayakan Ramadan di negeri orang adalah berpuasa dengan sesama Muslim dari negara lain. Kesenangan itu dirasakan betul oleh Wino Yourman Eusy, mahasiswa kelahiran Batam, Indonesia, yang sedang menempuh program pascasarjana di Renmin University of China.

Di Shanghai, China, Wino mengaku senang bisa salat dan berpuasa dengan sesama Muslim dari negara lain. Apalagi, ini merupakan kali keempat dirinya berpuasa dengan orang-orang dari berbagai negara. Semua terasa begitu wajar. Salah satunya ketika menjalani ibadah puasa dengan teman-teman dari Pakistan.

“Rutinitas rata-rata sama, kalau sahur on the road enggak ada. Di sini paling asyik bisa ke masjid ramai-ramai dengan teman dari negara lain,” ucapnya kepada Okezone.

Wino (kanan bawah) groufie saat buka puasa bersama sesama Muslim di China. (Foto: Istimewa/Wino Yourman Eusy)

Sayangnya, di China memang tak ada suara adzan berkumandang. Semua pengeras suara masjid diarahkan ke dalam. Namun, kondisi seperti inilah yang menurutnya bisa merekatkan umat Islam di luar negeri.

Untuk saling mengingatkan, Wino dan kawan-kawan pun membuat grup chat khusus Ramadan via sosial media. Di situ mereka bisa janjian salat dan sebagainya.

“Secara pribadi, kami jadi merasa tertantang. Jadinya lebih tawadu kepada Allah swt. Intinya, istiqomah yang kuat saja,” sarannya.

Meski sama-sama menganut ajaran Nabi Muhammad, pemuda kelahiran 1994 itu cukup takjub karena cara beribadahnya berbeda. Perbedaan paling mencolok terjadi ketika menjalankan salat tarawih, kemudian juga menu sahur dan berbuka puasanya.

“Saya terbiasa dengan taddarusan (pengajian berjamaah) malam di masjid, tetapi kalau di sini tidak memungkinkan karena masjid jauh dan universitas tutup pukul 00.00,” ungkapnya.

Kemajemukan beribadah puasa di luar negeri juga dinikmati seorang perempuan WNI di Prancis. Saldhyna di Amora yang menetap bersama suami dan putra semata wayangnya di Grenoble menceritakan, pengalaman paling berkesan dalam merayakan Ramadan di Negeri Mode adalah maraknya pendatang dari negara Muslim.

“Walaupun Prancis bukan negara mayoritas Muslim, negara ini memiliki banyak kaum pendatang dari negara-negara Muslim. Khususnya dari Afrika Utara, seperti Aljazair, Maroko dan Tunisia,” paparnya.

Ilustrasi. Supermarket halal di Prancis. (Foto: Free Thinker)

Sehingga di negeri Napoleon Bonaparte itu, Saldhyna tidak merasa kesulitan menemukan toko-toko daging halal. Keseruan lain terletak pada keberagaman pilihan jajanan takjil khas Ramadan, yang tentunya datang dari banyak negara Muslim di dunia.

“Di bulan Ramadhan, toko-toko ini menjual aneka takjil khas negara mereka yang tidak bisa kita jumpai di bulan-bulan lain,” tutupnya.

Meskipun makanannya memang lebih beragam daripada di Indonesia, ibu rumah tangga yang akrab disapa Selly itu mengungkap, terkadang rasanya tidak cocok dengan lidah orang Indonesia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini