nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

WNI Susah-Susah Gampang Jalani Puasa di China

Silviana Dharma, Jurnalis · Kamis 22 Juni 2017 22:02 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 06 21 18 1721896 wni-susah-susah-gampang-jalani-puasa-di-china-CC6uS8erHR.jpg Suasana buka puasa di KJRI Shanghai. (Foto: Istimewa/Wino Yourman Eusy)

BEIJING – Dalam sebuah survei yang diambil Gallup International dan WI Network of Market Research (WIN/Gallup International Polls) pada 2008, 2009 dan 2015, negara paling tidak mementingkan agama di dunia adalah China. Hanya sekira 7% rakyatnya yang merasa taat pada agama.

Hal tersebut, menurut dua warga negara Indonesia (WNI) yang sedang menimba ilmu di Negeri Tirai Bambu, membuat berpuasa di sana susah-susah gampang dijalani. Mentari Puspa Ferisa yang berkuliah di Beijing melihat lingkungan di sekelilingnya tidak berubah ketika Ramadan.

“Di sini karena negaranya komunis dan rata-rata penduduknya tidak beragama, jadi mereka tidak peduli sama kami yang beragama,” ujarnya kepada Okezone.

Dia menuturkan bagaimana selama bulan puasa, para Muslim tetap bisa melihat perempuan-perempuan berpakaian minim, hampir semua restoran yang halal maupun haram tetap buka pada siang hari dan tutup saat malam. Dan yang pasti, tidak ada jajanan takjil seperti di Tanah Air. Ya, hal ini sejatinya juga terjadi karena Islam adalah agama minoritas di Negeri Panda.

“Ya, semua berjalan seperti tidak ada perubahan. Harus kita yang berubah untuk menahan nafsu dan sebagainya, dan kami sudah terbiasa di sini,” imbuhnya.

Pengalaman serupa dialami Wino Yourman Eusy. Selama Ramadan, mahasiswa Renmin University yang menetap di Shanghai itu seringnya menjalankan rutinitas sahur, berpuasa, berbuka dan salat bersama sesama Muslim dari negara lain.

Wino mengungkap, kegiatannya pantang makan dan minum di bulan puasa itu sudah wajar. Teman-temannya yang juga berpuasa pasti paham. Akan tetapi, di mata mereka yang asli penduduk China dan non-Muslim, orang berpuasa itu relijius sekali.

“Kebanyakan orang di sini tidak peduli dengan hal-hal berbau agama. Makanya mereka mengganggap saya taat sekali pada agama saya,” ucapnya.

Meskipun negara yang dikuasai Partai Komunis tersebut tidak peduli pada agama, Mentari dan Wino meyakinkan pemerintah juga tidak melarang umat Islam setempat menjalankan keyakinannya. Beberapa kegiatan keagamaan buktinya tetap ada, walau terbatas pada kalangan tertentu.

Perayaan buka bersama dan salat tarawih misalnya, bisa dilakukan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beijing maupun di Konsulat Jenderal RI (KJRI) di Shanghai.

“Pihak kedutaan Indonesia sendiri memfasilitasi untuk berbuka bersama dan beribadah. Selain itu, kami bisa beribadah di masjid terdekat, yang seringnya juga menyediakan makanan buka puasa gratis,” kata Wino.

(Sil)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini