nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Komunitas Muslim di Jepang Bernostalgia Kuliner Negara Asal Saat Buka Puasa Bareng

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Kamis 22 Juni 2017 09:03 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 06 21 18 1721978 komunitas-muslim-di-jepang-bernostalgia-kuliner-negara-asal-saat-buka-puasa-bareng-PWGXJaVFZh.jpg Suasana buka bersama di Masjid Gifu, Jepang (Foto: Istimewa)

JAKARTA – Hidangan berbuka puasa menjadi salah satu ciri khas bulan suci Ramadan. Beberapa penganan seperti es buah, kolak, dll. biasa disantap untuk membatalkan puasa di tanah air. Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk negara di mana Muslim menjadi minoritas seperti di Jepang.

Hidangan berbuka puasa biasanya malah menjadi ajang untuk melepas kangen dengan kuliner negara asal. Diana Hapsari, WNI yang sedang belajar sekaligus bekerja di Gifu, mengatakan diaspora dari negara-negara mayoritas Muslim sering memasak makanan khas dari asalnya untuk berbuka.

“Biasanya mereka bikin makanan khas sana, nasi briyani (makanan khas Timur Tengah) contohnya. Tapi yang khas dari komunitas Mesir atau Arab ini adalah makanan penutup dan makanan pembukanya, manis banget,” tutur perempuan yang sudah tinggal di Jepang sejak 2011 itu.

(Takjil berupa buah dan kufta yang disediakan komunitas Pakistan. Foto: Istimewa)

Tentu saja Diana sangat rindu dengan menu berbuka puasa ala Indonesia. Perempuan lulusan Fakultas Pertanian Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) itu mengaku kangen dengan sirup khas Indonesia serta makanan berbuka puasa.

“Yang dikangenin dari Indonesia itu sirup dan buka puasa dengan es buah, es teler, dll.,” tukas perempuan kelahiran 23 Mei 1989 tersebut.

Diana menambahkan, dalam acara buka puasa besar-besaran biasanya ada tim khusus yang menyediakan makanan. Tim tersebut ditunjuk secara bergiliran di antara komunitas Muslim setempat yang mayoritas adalah ekspatriat, untuk menyediakan makanan.

“Indonesia dapat giliran pada 4 Juni lalu bersama komunitas Muslim Malaysia untuk menjamu hidangan berbuka. Kemudian berganti giliran komunitas Pakistan, Bangladesh, Mesir, dan Arab Saudi. Dua negara disebut terakhir mendominasi kegiatan di Masjid Gifu,” tukas perempuan asal Purworejo, Jawa Tengah itu.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini