nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Australia Sambut Baik Dakwaan terhadap Pelaku Bom Bali I

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Sabtu 24 Juni 2017 17:06 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 06 24 18 1724190 australia-sambut-baik-dakwaan-terhadap-pelaku-bom-bali-i-8tMThS6i9O.jpg Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop (Foto: AFP)

SYDNEY – Pemerintah Australia menyambut baik dakwaan yang dijatuhkan kepada dalang Bom Bali I, Hambali. Pria yang kini mendekam di balik jeruji besi Penjara Guantanamo tersebut diyakini sebagai otak di balik serangan bom yang menewaskan 202 orang pada 12 Oktober 2002.

Selain Bom Bali I, Hambali juga dituduh merancang serangan bom di Hotel JW Marriott, Jakarta, pada 2003 yang menewaskan 12 orang. Menteri Luar Negeri Julie Bishop berharap proses hukum terhadap pria yang bernama lain Riduan Isamuddin itu dapat berjalan dengan baik.

“Saya berharap agar proses hukum berhasil sehingga mengakhiri penderitaan mereka yang kehilangan orang-orang tercinta, keluarga, dan teman. Sudah menjadi luka di hati warga Australia sejak serangan tersebut terjadi pada 2002,” tutur Julie Bishop, mengutip dari Reuters, Sabtu (24/6/2017).

Hambali dijatuhi tujuh dakwaan berbeda, termasuk terorisme dan pembunuhan yang melanggar hukum perang. Dakwaan tersebut dikabarkan harian Miami Herald, mengutip dari surat dakwaan tertanggal 20 Juni 2017.

Hambali dituduh merancang tiga ledakan pada 12 Oktober 2002 yang menghantam sebuah bar, kelab malam, dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat (AS) di Bali. Dua orang pelaku meledakkan bom bunuh diri di kelab malam yang dipenuhi turis sehingga menewaskan 202 orang.

Australia sendiri kehilangan 88 orang warganya dalam insiden tersebut. Pulau Bali merupakan destinasi wisata favorit bagi warga Negeri Kanguru. Serangan bom tersebut juga menewaskan tujuh orang warga AS dan 38 orang warga negara Indonesia (WNI).

Hambali alias Riduan Isamuddin ditangkap di Bangkok, Thailand, pada 2002. Ia ditahan di Penjara Teluk Guantanamo sejak 2006 tanpa dijatuhi dakwaan. Hambali dijuluki sebagai Osama bin Laden dari Asia Tenggara karena menjadi penghubung utama antara Jamaah Islamiyah (JI) dan al Qaeda di Afghanistan.

Menteri Luar Negeri Julie Bishop memastikan Australia memberikan dukungan terhadap proses hukum, tetapi tidak terhadap hukuman mati. “Mereka yang bertanggung jawab membunuh 202 orang, termasuk 88 warga kami, harus diproses hukum, menerima hukuman seberat-beratnya, dan seharusnya tidak boleh mendapat kebebasan,” tukas Bishop.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini