nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Diberi Waktu 48 Jam, Qatar Siap Berjuang Sendiri Pertahankan Kedaulatannya

Silviana Dharma, Jurnalis · Senin 03 Juli 2017 15:03 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 07 03 18 1727482 diberi-waktu-48-jam-qatar-siap-berjuang-sendiri-pertahankan-kedaulatannya-Q28qBcEdUd.jpg Menhan Qatar Khalid al Attiyah. (Foto: Sky News)

DOHA – Menteri Pertahanan Qatar, Khalid al Attiyah, percaya pemutusan hubungan diplomatik dan blokade yang dilakukan para tetangganya di Teluk Arab adalah upaya mereka untuk menggulingkan Emir Tamim bin Hamad al Tsani.

Sebab, bukan baru sekali negara di sekeliling dia mencobanya. Pertama, pada 1996 melalui kudeta militer. Kedua, pada 2014 dengan pendekatan kudeta yang lebih lembut. Terakhir pada 2017 sebelum konflik diplomatik merebak.

Kini, katanya, Doha bersiap untuk berjuang sendiri mempertahankan kedaulatannya. Sebagaimana Arab Saudi cs hanya memberi tambahan waktu 48 jam untuk Negara Emir ini menyerah dan bertekuk lutut pada 13 tuntutan mereka.

“Saya harap kami tidak perlu sampai ke tahap pendekatan militer. Tapi kami selalu bersiaga untuk menghadapi kemungkinan tersebut. Kami di sini untuk mempertahankan negara kami,” tegasnya, seperti disunting dari Sky News, Senin (3/7/2017).

Lebih lanjut, al Attiyah memperingatkan para tetangganya bahwa dalam sejarahnya, Qatar membuktikan diri bukan negara yang mudah ditaklukkan. Ketika Inggris meninggalkan Teluk Arab pada 1968, Qatar bersama Abu Dhabi, Dubai, dan Bahrain hampir membentuk negara federasi Emirat Arab.

Namun rencana itu gagal terwujud setelah para pemimpinnya tak mencapai kata mufakat dalam menentukan ibu kota negara kesatuan tersebut. Qatar lebih suka menjadi negara merdeka yang berdiri di atas kakinya sendiri, Bahrain mengikuti jejaknya. Tinggal Abu Dhabi dan Dubai yang pada akhirnya bergabung menjadi Uni Emirat Arab.

Dalam banyak perdebatan, Qatar juga termasuk pembangkang. Dia sering kali tidak sepaham dengan saudaranya yang paling berpengaruh di kawasan, Arab Saudi. Ketika Saudi cs memusuhi Iran dan Turki, Qatar tetap menjalin hubungan baik dengan kedua negara tersebut.

Sikap ini lah yang kemudian membuat Saudi semakin berang. Pada hari yang sama, 5 Juni 2017, negara-negara Teluk Arab mengumumkan putus hubungan dengan Qatar. Dimulai dari Bahrain, diikuti Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Mesir. Yaman juga membalikkan punggungnya beberapa jam kemudian. Berlanjut hingga ke Libya dan besoknya disusul oleh Mauritius dan Maladewa.

“Saat itu, kami seperti ditusuk dari belakang oleh teman-teman sendiri,” tukas Attiyah.

Kuwait dan Amerika Serikat ditunjuk menjadi penengah dalam kasus ini. Kedua belah pihak mendorong terjadinya dialog. Saudi sebelum ini mengeluarkan 13 ultimatum yang menuntut Qatar memutuskan hubungan dengan Iran, memulangkan tentara Turki hingga menutup Al Jazeera. Semua harus disetujui dalam waktu 10 hari setelah surat itu diterima Doha.

Qatar menolak tunduk. Ultimatum Saudi dianggap omong kosong. Namun berdasarkan saran dari Kuwait, Saudi bersedia memperpanjang tenggat waktu persetujuan 13 tuntutan itu hingga 48 jam ke depan.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini