Austria Akan Tempatkan Pasukan di Perbatasan, Italia Berang

Rahman Asmardika, Okezone · Rabu 05 Juli 2017 00:01 WIB
https: img.okezone.com content 2017 07 04 18 1728776 austria-akan-tempatkan-pasukan-di-perbatasan-italia-berang-dbFFlFDzKX.jpg Tanda kontrol perbatasan Austria terlihat di Desa Brenner, Italia. (Foto: Reuters)

ROMA – Rencana Pemerintah Austria untuk menerapkan kontrol perbatasan dengan menempatkan pasukannya guna mencegah arus imigran dari Italia telah memicu reaksi Roma. Kementerian Luar Negeri Italia dilaporkan telah memanggil Duta Besar Austria untuk menjelaskan keputusan Wina tersebut.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Austria, Hans Peter Doskozil menyatakan akan kembali mengaktifkan kontrol untuk mengurangi arus pengungsi dari Italia. Kontrol yang dimaksud adalah dengan menempatkan 750 pasukan dan empat kendaraan tempur di perbatasan kedua negara.

"Kami perlu melakukan persiapan terkait perkembangan migrasi di Italia, dan saya berharap secepatnya kontrol perbatasan harus diaktifkan dan permintaan bantuan dikirimkan," kata Doskozil sebagaimana dilansir Russia Today, Rabu (5/7/2017).

Doskozil menampik reaksi Italia terkait pengerahan pasukan dan kendaraan tempur di perbatasan tersebut. Menurutnya, kendaraan tempur yang digunakan hanya akan digunakan sebagai penghalang seperti yang pernah dilakukan sebelumnya.

"Ini bukan tank tempur, hanya kendaraan lapis baja tanpa senjata yang bisa memblokir jalan, cara ini sudah digunakan selama krisis pengungsi 2015-201616 di Spielfeld, perbatasan Austria dengan Slovenia," jelas Doskozil.

Ketegangan terjadi antara negara-negara Uni Eropa mengenai bagaimana membagi beban pengungsi yang membludak pada 2015. Ratusan ribu orang yang melarikan diri dari perang di Afrika dan Timur Tengah, mulai tiba di wilayah EU, terutama melalui Yunani dan Italia menuju ke Jerman, Austria dan negara-negara makmur lain di sekitarnya.

Laporan terbaru badan pengungsi PBB, UNHCR memperkirakan jumlah pengungsi yang tiba di Italia melalui laut pada tahun ini hampir mencapai 85 ribu orang. Lebih dari 2.000 lainnya meninggal atau hilang dalam perjalanan.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini