Patahkan Panah, 2 Kubu Warga yang Bentrok di Puncak Jaya Sepakat Berdamai

Edy Siswanto, Okezone · Selasa 04 Juli 2017 15:21 WIB
https: img.okezone.com content 2017 07 04 340 1728374 patahkan-panah-2-kubu-warga-yang-bentrok-di-puncak-jaya-sepakat-berdamai-06JLL4sPCo.jpg Pertikaian antara dua kubu pendukung pasangan calon bupati di Mulia, Puncak Jaya, Papua (Antara)

PUNCAK JAYA – Kondisi Kota Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua berangsur kondusif setelah kedua kubu pendukungan pasangan calon bupati yang sebelumnya bertikai sepakat berdamai. Prosesi perdamaian ditandai dengan mematahkan panah.

Prosesi damai dengan mematahkan panah dilakukan di halaman Mapolres Puncak Jaya, Senin 3 Juli 2017 sore. Turut dihadiri Bupati Puncak Jaya Henok Ibo, Dandim 1714/PJ Letkol Inf Hindratno Devidanto, Kapolres Puncak Jaya AKBP Hotman Hutabarat, Ketua II DPRD Jaya Mendi Wonorengga, Kolonel Inf Joshua Sembiring dan para pejabat.

Perwakilan pasangan calon bupati nomor urut 1 Erenias Kogoya, paslon nomor urut 2 Matius Kiwo, serta paslon nomor urut 3 Yeki Telenggen dan Kire Wonda juga hadir.

Ketua Klasis Gereja Injili Indonesia (GIDI) Mulia Pendeta Dainus Game dan Wakil Ketua Klasis GIDI Pdt Telius Wonda ditunjuk sebagai saksi perdamaian kedua kubu.

Dalam kesepakatan damai yang dimediasi langsung oleh TNI dan Polri serta para tokoh masyarakat setempat juga ditandai dengan pemasangan parameter bendera merah putih di Pasar Kota Baru yang menjadi perbatasan untuk area dilarang bawa panah dan benda tajam.

Selepas pemasangan parameter bendera merah putih diduga ada oknum yang berusaha memancing keributan, namun berhasil diredamkan oleh aparat keamanan dan para tokoh masyarakat setempat.

Bupati Puncak Jaya, Henok Ibo, Selasa (4/7/2017) mengatakan, dengan adanya kesepakatan damai tersebut maka semua alat perang di tangan warga akan dirampas.

“Intinya dalam kesepakatan yang dilakukan ini adalah memberikan wewenang kepada bupati, kapolres, dan dandim agar semua peralatan panah dan parang yang ada di tangan oknum dapat di rampas, dan sebelumnya dalam beberapa bulan yang lalu telah diberitahukan kepada oknum-oknum untuk larangan membawa panah tetapi ternyata oknum tersebut tidak menghargai adanya larangan tersebut,” katanya.

“Kesepatan bersama yang dilakukan dan ditandatangani bersama telah disaksikan langsung oleh kapolres dan dandim dan itu harus dihargai untuk tidak lagi melakukan konflik,” tukasnya.

Bupati mengemukakan, Mulia biasanya disebut dengan Kota Allah Wone dan Masyarakatnya menyembah Allah dan Yesus dan itu harus dilakukan oleh masyarakat tanpa ada konflik hingga mengakibatkan hilangnya nyawa manusia yang tidak berdosa.

Alibat kerusuhan massa di Puncak Jaya, sedikitnya 20 unit rumah dan delapan sepeda motor rusak. Dari 20 unit rumah tersebut, satu di antaranya milik pejabat eselon pemda di distrik Pagaleme.

Saat ini, kondisi Kabupaten Puncak Jaya secara keseluruhan telah kondusif. Pengungsi yang sebelumnya memadati halaman Mapolres Puncak Jaya, Makodim 1704 Puncak Jaya dan beberapa lokasi lain telah kembali ke rumahnya masing-masing. Pemerintah berjanji membangun lagi rumah warga yang terbakar dalam kerusuhan.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini