Image

Tito Karnavian Berniat Pensiun Dini, DPR: Mungkin Keputusan Pribadi

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Selasa 11 Juli 2017, 11:54 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 07 11 337 1733413 tito-karnavian-berniat-pensiun-dini-dpr-mungkin-keputusan-pribadi-4d2H4fexe6.jpg Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian. (Foto: Antara)

JAKARTA - Kapolri Jenderal Tito Karnavian berniat ingin pensiun dini dari jabatannya sebagai orang nomor satu di Korps Bhayangkara. Hal itu disampaikannya saat perayaan HUT Bhayangkara di Silang Monas, Jakarta Pusat kemarin.

Anggota Komisi III DPR RI Daeng Muhammad menanggapi pernyataan Tito. Dia mengaku tidak bisa menganalisis dan bingung terhadap pernyataan Tito. Daeng pun berpendapat, keinginan pensiun dini itu merupakan keputusan pribadi.

"Jadi, kami menanggapinya bahwa sikap yang diambil Tito itu merupakan keputusan sendiri (pribadi)," kata Daeng di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (11/7/2017).

Diketahui, usai memimpin upacara peringatan HUT ke-71 Bhayangkara di Silang Monas, Jakarta Pusat, Senin 10 Juli 2017, Kapolri Tito mengisyaratkan ingin pensiun dini. Hal tersebut sebelumnya sudah disampaikannya saat melayani wawancara dengan salah satu stasiun televisi swasta.

"Saya sampaikan kalo boleh saya pilih, saya enggak mau selesai sampai 2022. Terlalu lama. Enggak baik bagi organisasi, enggak baik bagi saya sendiri. Organisasi butuh penyegaran, perlu ada pimpinan baru," kata Tito.

"Saya katakan, jadi Kapolri penuh dengan kehidupan yang stressfull, banyak persoalan. Saya pikir pada waktunya saya enggak selesai 2022, kemungkinan ada waktu yang saya anggap tepat, mungkin akan pensiun dini," imbuh Tito.

Terkait hal tersebut, politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu menyampaikan, Tito tidak ada masalah secara komunikasi politik dengan Komisi III DPR. Karenanya, dia tidak mengerti sikap Tito yang tiba-tiba mengeluarkan pernyataan ingin pensiun dini.

"Kalau persoalan dia pensiun dini, atau sampai selesai masa dinasnya di kepolisian, itu kembali ke Pak Tito," ujar dia.

Daeng menjelaskan, jika alasan mundur karena tekanan pekerjaan yang berat maka sangat tidak tepat. Menurut Daeng, ketika seorang polisi berani mengambil keputusan dan tanggung jawab menjadi Kapolri maka sudah harus siap dengan risiko jabatannya.

"Tidak bisa menikmati jabatan tanpa mau mengambil akibat dari jabatan itu," tutur dia. (ran)

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini