nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

OKEZONE STORY: Legenda Kapal Hantu Flying Dutchman antara Mitos dan Fata Morgana

Silviana Dharma, Jurnalis · Kamis 13 Juli 2017 08:03 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 07 12 18 1734938 okezone-story-legenda-kapal-hantu-flying-dutchman-antara-mitos-dan-fata-morgana-auDn6E5Ok9.jpg Kapal hantu Flying Dutchman. (Foto: The Vintage News)

KEBANYAKAN orang tahu tentang kapal hantu Flying Dutchman dari film Hollywood ‘The Pirates of Caribbean: Dead Man’s Chest’. Dalam film tersebut, diceritakan kapal tersebut dihuni para perompak terkutuk yang akan mengarungi laut selamanya meskipun mereka semua sudah meninggal.

Kapten kapal Flying Dutchman digambarkan menyerupai manusia berkepala gurita lengkap dengan tentakel-tentakelnya. Ia bernama Davy Jones. Penguasa lautan paling ditakuti. Kelemahannya hanya satu, jantung yang disimpan dalam peti kemas dan terkubur di pantai Isla Cruses. Barangsiapa memiliki jantung itu bisa menguasai lautan dan mengendalikan monster laut, Kraken.

Isla Cruses hanya lah pulau fiksi yang tampil dalam film yang dibintangi Johnny Deep (bermain sebagai Kapten Jack Sparow). Dikisahkan, Isla Cruses adalah pulau terpencil yang seluruh penduduknya tewas karena wabah penyakit.

Bicara soal Flying Dutchman, sekarang pertanyaannya adalah dari mana sutradara Gore Verbinski mendapatkan inspirasi kisahnya? Apakah perompak gaib tersebut benar-benar nyata atau sekadar mitos?

Menyadur The Vintage News, Kamis (13/7/2017), Flying Dutchman merupakan legenda atau cerita rakyat dari Belanda. Seperti dalam film Pirates of Carribean, seluruh awak kapal itu dikutuk mengarungi tujuh lautan selamanya dan tak pernah bisa berlabuh apalagi pulang ke rumah.

Ada yang mengatakan Flying Dutchman hanya takhayul karangan para pelaut pada abad ke-17. Akan tetapi beberapa pelaut meyakini kapal itu ada, bahkan pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Pelaut biasa melihat kapal ini dari kejauhan, disinari dengan sorotan cahaya redup. Mereka percaya penampakan kapal tersebut adalah pertanda terburuk. Kepercayaan ini berlangsung lama sejak laporan paling awal tentangnya ditulis pada abad ke-18. Laporan serupa ditemukan sebagian besar pada abad ke-19. Dan selama lebih dari 250 tahun masih juga ada yang merasa bertemu kapal tersebut di abad ke-20.