nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

6 Anggota Sindikat Illegal Logging Ditangkap, Ratusan Kayu Disita

Wahyudi Aulia Siregar, Jurnalis · Sabtu 15 Juli 2017 02:30 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 07 14 340 1736870 6-anggota-sindikat-illegal-logging-ditangkap-ratusan-kayu-disita-YhSbJ1cLaa.jpg Penangkapan sindikat illegal logging di Sumatera. (Foto: Wahyudi Aulia Siregar/Okezone)

MEDAN – Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Pamgakkum LHK) Wilayah Sumatera menangkap enam orang yang diduga kuat anggota sindikat penjualan kayu hasil pembalakan liar (illegal logging). Mereka adalah DS (29) dan UF (27) sebagai pemilik kayu; WJ (27) dan M (31) sopir truk; serta RKS (22) dan C (19) yang merupakan kernet.

Keenamnya ditangkap dari Desa Kebun Tiga, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, pada Rabu 12 Juli 2017, sekira pukul 23.30 WIB. Mereka ditangkap karena kedapatan membawa dua truk Mitsubishi Colt Diesel bermuatan sebanyak 167 batang kayu dengan panjang rata-rata 220 cm dan diameter 30 cm tanpa dilengkapi dokumen surat keterangan sahnya hasil hutan (SKSHH).

Kasi Wilayah I Balai Pamgakkum LHK Wilayah Sumatera Haluanto Ginting mengatakan, kayu yang diangkut para pelaku merupakan jenis jabon, sengon, dan pulai. Rencananya kayu-kayu tersebut dijual ke beberapa wilayah di Sumatera Utara, yakni Deliserdang dan Kota Binjai.

"Kayu yang mereka bawa, kita duga hasil pembalakan liar, karena tidak dilengkapi (SKSHH)," kata Haluanto di Markas Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC) Brigade Macan Tutul, Medan, Jumat 14 Juli 2017.

Haluanto melanjutkan, saat ini mereka masih menelusuri asal kayu tersebut. Guna penelusuran lebih lanjut, mereka telah berkoordinasi dengan Balai Pengelolaan Hutan Produksi (BPHP) Aceh dan Sumut.

"Ini biasanya dari kebun masyarakat. Tapi di UU Nomor 18 Tahun 2013 disebutkan kalau kita membawa kayu harus ada SKSHH. Itu pegangan kami. Lagi pula di atas itu ada Cagar Alam Serbojadi. Jadi kemungkinan bisa juga ini dari sana. Itu yang lagi kita telusuri," ujar dia.

Haluanto lebih lanjut mengatakan, keenam orang yang mereka tangkap tersebut sekarang sedang mengikuti pemeriksaan. Keenamnya masih berstatus sebagai saksi.

"Kita masih kumpulkan alat buktinya. Kalau sudah lengkap, mereka akan kita jadikan tersangka dan akan kita jerat dengan Pasal 12 huruf e UU Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan. Ancaman pidananya minimal setahun dan maksimal 5 tahun penjara," jelasnya.

DS alias Dedi, salah seorang terduga pelaku yang ditangkap, mengaku membeli kayu tersebut dari warga di desa asalnya di Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang. Dia menyatakan sudah lima kali berbisnis jual-beli kayu seperti ini.

"Masyarakat sana ambil dari lahan mereka sendiri. Saya tahu juga harus ada dokumen, tapi kami di sana itu banyak yang menawar-nawari, jadi kami ambil," kata Dedi.

Kayu yang dia beli dari warga kemudian dibawa ke Binjai dan Tanjung Morawa untuk dijual kembali kepada pembeli di sana. Pembelinya, menurut Dedi, merupakan perorangan dan bukan perusahaan.

"Katanya, ada yang buat bahan bangunan, atau apa. Saya kurang tahu untuk apa. Per ton kubik saya jual Rp3,5 juta. Kita belinya dari warga Rp100 sampai Rp200 ribu per batang," tukas dia.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini