nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ratusan Demonstran Geruduk Mapolres Pamekasan, Ada Apa?

Agregasi Antara, Jurnalis · Sabtu 15 Juli 2017 14:21 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 07 15 519 1737110 ratusan-demonstran-geruduk-mapolres-pamekasan-ada-apa-mxEw2MbfAR.jpg ilustrasi aksi unjuk rasa (Foto: Dok. Okezone)

PAMEKASAN - Ratusan orang dari Desa Larangan Badung, Pamekasan, Jawa Timur, Sabtu (15/7/2017) berunjuk rasa ke Mapolres Pamekasan untuk meminta agar kepala desa tidak diproses hukum.

Warga meminta agar kasus pembakaran pencuri yang dilakukan oleh masyarakat di desa itu pada 22 Mei 2017 tidak diproses karena tindakan itu dinilai sudah tepat. Aksi massa di Mapolres Pamekasan ini dikomando oleh salah seorang tokoh ulama asal desa itu.

"Kami tidak ingin kepala desa kami ditahan. Kalau Pak Kades tidak pulang, kami juga tidak akan pulang," teriak salah seorang warga.

Pengunjuk rasa juga membentangkan sejumlah poster dan spanduk yang berisi nada protes akan tindakan polisi memproses hukum kasus pembakaran maling yang dibakar hidup-hidup oleh masyarakat di desa itu.

Warga Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan ini berunjuk rasa dan mendatangi Mapolres Pamekasan, karena kepala desa mereka Musyaffak diperiksa terkait kasus pembakaran pencuri di desanya itu.

Sementara, Kapolres Pamekasan, AKBP Nuwo Hadi Nugroho meminta masyarakat agar tidak mengintervensi proses hukum yang dilakukan aparat. Menurutnya, pemanggilan Kepala Desa Larangan Badung Musyaffak untuk dimintai keterangan sebagai saksi dalam kasus pembakaran pencuri di desanya.

"Jadi Pak Kades ini hanya dimintai keterangan, karena beliau merupakan pemimpin di sana," ujar Kapolres.

Oleh karenanya, Kapolres meminta agar masyarakat segera bubar, sehingga proses pemeriksaan berjalan lancar.

Kasus pembakaran pencuri di Desa Karangan Badung, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, Madura itu terjadi 22 Mei 2017 saat pelaku mencuri di salah satu toko milik warga di desa itu.

Warga lalu menangkap pencuri itu dan langsung diikat sebelum akhirnya dibakar hidup-hidup. Kasus main hakim sendiri ini, menurut Kepala Desa Musyaffak terjadi, lantaran petugas terlambat datang ke lokasi kejadian.

"Saat ada laporan bahwa ada pencuri tertangkap, kami telah malaporkan kepada petugas, akan tetapi polisi lambat tiba di tempat kejadian perkara," ucapnya.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini