nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perjalanan Wisata ke Desa Terunyan Berujung Maut, Ini Penuturan Korban Selamat

Agregasi Balipost.com, Jurnalis · Rabu 19 Juli 2017 11:54 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 07 19 340 1739667 perjalanan-wisata-ke-desa-terunyan-berujung-maut-ini-penuturan-korban-selamat-C2h1eYcrUZ.jpg Foto: Balipost

DENPASAR – Empat koban selamat dari kejadian nahas di kawasan Desa Trunyan, Kintamani, Bangli dibawa ke RSUP Sanglah. Empat korban tersebut yaitu Miftahul Janna (25), Kenzi (2), Dinda Nazwa Kharisma (13), dan Dwi Septia Cahaya (10).

Tiga orang dalam kondisi mengalami luka ringan, hanya satu korban luka parah yakni Dinda yang mengalami patah pada tumit kaki kiri hingga harus dioperasi. Korban selamat Miftahul Janna menuturkan, ia tidak menyangka akan mengalami musibah tersebut. Ini merupakan perjalanannya yang ketiga ke Bali bersama keluarga, namun untuk pertama kalinya ke Desa Wisata Terunyan.

“Katanya itu unik, pemakaman yang unik. Nah kita coba ke sana. Pas ke sana kita juga cuma sebentar. Enggak lama, sekitar 20 menitan, langsung balik,” ungkapnya.

Diakui, rombongannya memang tidak tahu medan perjalanan ke sana. Ketika hendak jalan pulang, rombongan tersebut sempat merasa kebingungan untuk menghadapi medan jalan pulang. “Kita bingung mau pulang gimana caranya dan saat itu kita benar-benar nyerah. Mungkin suami saya itu nyerah, itu pertanda sekali ya. Seperti firasat suami saya sempat bilang bisa pulang enggak ini? Terus saya bilang ya sudah dibawa santai saja jangan dibawa cemberut, dan kita tidak nyangka terjadi kejadian itu,” tuturnya.

Saat kejadian, Janna dan suami berada di kursi depan. Saat itu suaminya memakai sabuk pengaman, namun ia sendiri tidak mengenakan sabuk pengaman. Hingga saat ini suaminya masih terjebak dan belum ditemukan. “Waktu itu mobil dalam posisi terkunci, saya juga enggak tahu kenapa saya bisa keluar. Saya enggak tahu pokoknya saya merasa pontang panting, bolak-balik, tahu-tahu saya sudah ada di pinggiran,” ujarnya.

Anaknya ia gendong menuju pinggiran sampai di rerumputan. Ia juga berusaha menggendong keponakannya. “Saya lihat, ibu saya sudah meninggal di depan, mengambang. Bingung antara hidup atau mati saya langsung berenang ke pinggiran. Untungnya saya jatuh di tempat yang tidak terlalu dalam. Setelah kejadian di danau itu, 20 menit kemudian ada orang yang lagi mendayung disana,” katanya.

Sebelum kejadian, mereka bertemu seorang warga di perjalanan. Orang itu menyuruh mereka mengikutinya. Namun pemandu yang mengendarai motor itu sudah jauh di depan, sehingga tidak tahu akan kejadian yang menimpa satu mobil itu. “Katanya disuruh ngikutin dia pas pulang. Sempat kita tanya, ada jalan alternatif lain enggak, yang jalannya agak besar. Meskipun jauh bagi kami enggak apa-apa. Kita sudah tanya dan kata pemandu tidak ada. Nah suami saya sempat pasrah waktu itu,” katanya.

(qlh)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini