nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perburuan Makin Marak di Aceh, 4 Ekor Gajah Liar Ditemukan Mati

Agregasi Waspada Online, Jurnalis · Kamis 20 Juli 2017 12:24 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 07 20 340 1740500 perburuan-makin-marak-di-aceh-4-ekor-gajah-liar-ditemukan-mati-af3rq3GGvK.jpg Foto: Waspada Online

BANDA ACEH – Perburuan liar terhadap satwa dilindungi jenis gajah diduga cukup marak di Provinsi Aceh. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Aceh mencatat, hingga pertengahan Tahun 2017 ini telah ditemukan empat ekor gajah liar yang mati dalam kondisi beragam, salah satunya gading hilang.

Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo menyebutkan, konflik gajah dengan masyarakat sendiri hampir tidak berhenti sepanjang tahun ini, diakibatkan semakin sempitnya habitat gajah di Aceh. Habitat gajah Sumatera di Aceh, kata dia 85 persen berada di luar kawasan konservasi bahkan di luar kawasan hutan.

“Sehingga, potensi konflik sangat tinggi dan pengawasannya dari perburuan memerlukan upaya yang tidak mudah. Selain itu upaya perburuan satwa khususnya gajah diduga masih cukup marak terjadi, dan habitat gajah sumatera di Provinsi Aceh seperti diketahui 85 persen berada di luar kawasan konservasi dan bahkan di luar kawasan hutan,” tutur Sapto, Rabu 19 Juli 2017.

Hal ini disampaikannya terkait ditemukan gajah jantan yang mati dalam kondisi kepala terbelah, tertembak dan gading hilang di Dusun Payalah Desa Karang Ampar, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, pada Senin (17/7). “Kematian gajah liar di Aceh Tengah merupakan kejadian kematian gajah liar ke-4 di Provinsi Aceh sepanjang tahun 2017 ini,” jelas Sapto.

Dalam mengatasi konflik gajah, pihak BKSDA bersama dengan Pemerintah Aceh dan mitra telah membangun tujuh unit Conservation Response Unit (CRU) di seluruh wilayah Aceh dalam rangka mempercepat respon kejadian konflik gajah untuk dilakukan pencegahan maupun penanggulangan.

Selain itu, BKSDA Aceh juga telah memasang lima unit perangkat GPS Collar pada lima kelompok gajah di Bener Meriah, Aceh Tengah, Pidie, Aceh Utara dan Aceh Jaya untuk mengetahui pergerakan gajah sebagai bagian dari deteksi dini konflik serta untuk pemetaan wilayah jelajah gajah sebagai bahan pertimbangan pengambilan kebijakan penataan ruang ke depannya.

“Data pergerakan gajah yang telah dipasang GPS Collar akan terdeteksi setiap empat jam melalui satelit. BKSDA Aceh didukung mitra serta beberapa Pemerintah Kabupaten juga telah membuat parit sebagai barrier buatan untuk mencegah gajah keluar ke kebun maupun pemukiman masyarakat di beberapa lokasi seperti Aceh Timur, Aceh Tengah, Bener Meriah dan Aceh Jaya,” jelasnya kembali.

Dikatakan, Patroli pengamanan habitat gajah juga telah dilakukan meskipun frekuensi dan coverage wilayahnya masih jauh dari cukup dibandingkan luasan habitat gajah di Aceh.

(qlh)

Berita Terkait

gajah

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini