nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tipu Para Pencari Kerja dengan Bayar Rp7 Juta, Calo Ditangkap Polisi

Mulyana, Jurnalis · Jum'at 21 Juli 2017 13:34 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 07 21 525 1741315 tipu-para-pencari-kerja-dengan-bayar-rp7-juta-calo-ditangkap-polisi-TXYDSvOl8r.jpg Calo tenaga kerja ditangkap Polres Purwakarta karena melakukan penipuan. (Foto: Mulyana/Okezone)

PURWAKARTA – Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polres Purwakarta, Jawa Barat, mengamankan seorang oknum calo tenaga kerja yang kerap meresahkan warga. Praktik pungutan liar (pungli) terhadap pencari kerja ini terjadi di kawasan industri Kota Bukit Indah City (BIC).

Kasat Reskrim Polres Purwakarta, AKP Agta Bhuwana mengatakan, pihaknya telah ‎mengendus praktik pungli rekrutmen pencari kerja ini sejak April 2017. Saat itu, jajarannya banyak mendapat laporan dari warga. Setelah melakukan pengembangan, akhirnya satu pelaku berhasil diamankan.

"Kita telah mengamankan satu orang tersangka berikut barang buktinya. Dia merupakan seorang satuan pengamanan (satpam) di salah satu pabrik jasa otomotif di kawasan indsutri tersebut," ujar Agta kepada Okezone di kantornya, Jumat (21/7/2017).

(Foto: Mulyana/Okezone)

Adapun tersangka yang diamankan, atas nama Soleh Sepuloh alias Sobleng, warga Kampung/Desa Cinangka, Desa RT 04/02, Kecamatan Bungursari. Saat ini, tersangka sudah mendekam di ruang tahanan Mapolres Purwakarta.

"Tersangka kami tahan karena terbukti terlibat dalam penipuan rekrutmen tenaga kerja. Dia ditangkap di kediamannya di Desa Mulyamekar, Kecamatan Babakan Cikao," ujarnya.

Adapun modus yang dilakukan tersangka, kata dia, yakni dengan menjanjikan bisa memuluskan pencari kerja masuk ke sebuah perusahaan. Namun, para pencari kerja tersebut disyaratkan menyiapkan sejumlah uang. Tak tanggung-tanggung, uang yang harus disiapkan para pelamar kerja ini sebesar Rp7-8 juta per orang.

"Barang bukti yang kita amankan berupa kuitansi bukti pembayaran pelamar kepada mereka. Besarannya, ada yang Rp 7 juta sampai Rp 8 juta," kata dia.

Jadi, Agta menerangkan, setelah sang pelamar itu menyetor uang, pelaku menjanjikan satu bulan langsung bekerja. Namun, setelah menunggu lama, korban tak kunjung juga bekerja sebagaimana yang dijanjikan pelaku.

Agta menambahkan, saat ini pihaknya masih terus melakukan pengembangan terkait kasus tersebut karena kemungkinan besar banyak pihak yang terlibat. Itu termasuk saat ini pihaknya telah membidik seseorang yang ada di internal pabrik.

"Dari keterangan pelaku, dirinya tak bekerja sendiri. Dalam hal ini, pelaku dibantu warga lain berinisial D dan seseorang yang ada di internal perusahaan," tuturnya.

Sementara itu, Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, mengapresiasi kinerja jajaran kepolisian. Dalam hal ini, Kang Dedi mengakui selama ini praktik percaloan masih menjadi momok menakutkan bagi para pencari kerja di wilayahnya.

"Kami apresiasi langkah kepolisian. Kami berharap praktik percaloan ini harus dibabat habis sampai ke akar-akarnya karena sangat merugikan‎ masyarakat," ujar Kang Dedi.

Ia menjelaskan, masyarakat terutama warga yang ada di sekitaran pabrik, menjadi pihak yang dirugikan. Itu karena terkadang masyarakat sekitar pabrik tak bisa masuk ke perusahaan tersebut lantaran adanya pungli dan rumitnya birokrasi saat melamar pekerjaan.

Dedi menambahkan, untuk meminimalkan praktik percaloan ini, pihaknya terlah membuat sebuah media informasi soal lowongan pekerjaan supaya memudahkan masyarakat untuk mengakses informasi soal pekerjaan. ‎Ke depan, soal info lowongan kerja tak lagi berbentuk media berupa papan informasi yang terpasang di kantor dinas‎.

"Kita sudah buat aplikasi berbasis teknologi. Nanti, informasi soal lowongan pekerjaan bisa diakses masyarakat melalui aplikasi tersebut. Aplikasi ini juga terintegrasi dengan aplikasi Ogan Lopian yang baru diluncurkan," tambah dia.

Dalam hal ini, pihaknya pun telah menginstruksikan Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) setempat supaya mengintesifkan koordinasi dengan perusahaan-perusahaan yang ada perihal lowongan pekerjaan. ‎Nantinya, informasi tersebut harus dipampang di aplikasi tersebut supaya masyarakat terbantu jika ingin mencari lowongan pekerjaan.

"Kami juga meminta supaya perusahaan bisa terbuka soal lowongan pekerjaan ini karena lowongan kerja merupakan hak publik. Jadi, tidak boleh dibuat ribet dan tertutup," pungkasnya.

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini