nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

64 Hektare Lahan di Aceh Barat Terbakar, 3 Warga Dilarikan ke Rumah Sakit

Rayful Mudassir, Jurnalis · Selasa 25 Juli 2017 12:35 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 07 25 340 1743442 64-hektare-lahan-di-aceh-barat-terbakar-3-warga-dilarikan-ke-rumah-sakit-w22s4d5AeP.jpg Kebakaran lahan gambut di Gampong Seuneubok Teungoh, Arongan Lambalek, Aceh Barat (Syifa/Antara)

JAKARTA – Musim kemarau memicu kebakaran lahan dan hutan di Kabupaten Aceh Barat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lahan yang terbakar sudah seluas 64 hektare yang tersebar di lima kecamatan. Akibatnya, kabut asap mulai mengganggu kesehatannya masyarakat.

Kemarin, tiga warga dilariksan ke ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Nyak Dhien, Meulaboh, karena mengalami gangguan pernafasan (ispa) akibat kabut asap yang ditimbulkan akibat kebaran lahan.

Kepala Pusat Data dan Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, kebakaran lahan melanda setidaknya lima kecamatan di Aceh Barat. Yakni di Kecamatan Woyla seluas 5 hektare, Meureubo 15 hektare, Johan Pahlawan seluas 19 hektare, Arongan Lambalek 15 hektare dan Kecamatan Samatiga mencapai 10 hektare.

“Kebakaran lahan disebabkan masyarakat yang membersihkan lahan dengan cara membakar. Sehingga api menyebar ke lahan lain,” kata Sutopo dalam rilis yang diterima Okezone, Selasa (25/7/2017).

Kebakaran lahan di wilayah itu diketahui terhadi sejak Selasa, 18 Juli 2017. Hingga saat ini di beberapa titik masih terbakar pada lahan gambut dan lahan mineral. Sementara itu, petugas gabungan dari BPBD Aceh Barat, Badan Penggulangan Bencana Aceh, TNI dan Polri serta Basarnas, RAPI, Damkar juga relawan, terus berupaya memadamkan api.

Mobil pemadam kebakaran, tangki air, pompa air hingga water canon milik Polres Aceh Barat juga dikerahkan untuk mempermudah pemadaman api. Disamping itu, masyarakat sekitar turut membantu para petugas yang bekerja di lokasi.

“Kendala pemadaman kebakaran adalah tidak adanya akses jalan ke lokasi kebakaran, terbatasnya fasilitas mobil pemadam kebakaran dan mobil tangki air. Juga terbatasnya sumber air dari lokasi kebakaran, dan terbatasnya peralatan. Sehingga penanganan dilakukan secara manual,” jelasnya.

Pantauan satelit Aqua, Terra dan SNNP dari LAPAN menunjukkan adanya 170 titik panas (hotspot) untuk kategori sedang (tingkat kepercayaan 30-79%) dan tinggi (tingkat kepercayaan lebih 80%) di wilayah Indonesia.

Sementara di wilayah Aceh, pantauan terakhir pada 24 Juli 2017 malam, terdeteksi 35 hotspot yang tersebar di Kabupaten Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Tengah, Aceh Jaya, Aceh Besar dan Gayo Lues. Sebaran hotspot di daerah lain ialah Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah dan Kalimantan Timur.

Selanjutnya Kalimantan Utara, Lampung, Sumatera Utara, Jawa Timur, Sulawesi Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Bengkulu, Jambi, Sumatera Barat, Riau dan Sumatera Selatan juga terdeteksi adanya titik panas.

“Ancaman kebakaran hutan dan lahan akan terus meningkat seiring dengan akan terus meningkat seiring dengan normalnya musim kemarau. Puncak musim kemarau diprediksikan pada Agustus dan September. Sehingga ancaman kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan akan meningkat,” sebut Sutopo.

Sementara itu pemerintah setempat terus meningkatkan sosialisasi, patrol dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Pencegahan lebih efektif dibandingkan dengan pemadaman kebakaran hutan dan lahan.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini