Image

Garam Langka dan Mahal, Akademisi Bikin Solusinya, Apa Itu?

Siska Permata Sari, Jurnalis · Rabu, 9 Agustus 2017 - 09:15 WIB
Foto: Ilustrasi Okezone Foto: Ilustrasi Okezone

JAKARTA - Kelangkaan garam yang menimpa berbagai daerah di Indonesia mengantarkan sejumlah akademisi untuk turun tangan langsung menangai persoalan tersebut.

Salah satunya adalah penciptaan sebuah proyek yang menggunakan multi-stage precipitation. Proyek ini dilakukan secara gabungan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang turut menggandeng Universitas Trunojoyo Madura.

Dua universitas tersebut telah ditunjuk oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) RI sebagai pusat ilmu pengetahuan dan teknologi untuk garam.

Peneliti garam dari IPB, Muhammad Khotib menjelaskan, kelangkaan garam di Indonesia saat ini terjadi karena faktor cuaca. Curah hujan yang intens belakangan ini membuat petani garam beberapa hari tidak bisa melakukan kristalisasi di bawah sinar matahari.

"Ditambah tanpa persediaan petani karena petani belum siap panen," kata Khotib seperti dilansir dari laman IPB, Rabu (9/8/2017).

Ia menjelaskan, produksi garam sangat bergantung pada suhu, panas matahari, dan angin. Indonesia mengimpor banyak garam dari Australia.

"Namun, karena suhu dan cuaca yang berbeda dengan Indonesia, dimana Australia lebih dingin, maka proses kristalisasi garam akan lebih cepat, sehingga produksi garam di Australia juga lebih cepat," terangnya.

Dengan inovasi yang dibuat, tambah dia, saat cuaca buruk, garam bisa disimpan di Rumah Kristalisasi. "Teknologi sederhana ini akan membantu Indonesia mengatasi masalah garam," imbuhnya.

Sementara Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Studi Strategis IPB, Hermanto Siregar mengatakan bahwa garam merupakan isu strategis, meski biaya produksinya lebih murah dari kebutuhan dasar lainnya. "Dalam jangka panjang dan menengah, pemerintah harus serius menangani masalah ini," ungkapnya.

Ia berharap, teknologi garapan tim peneliti tersebut bisa memungkinkan Indonesia menjadi negara pengekspor garam. "Teknologi ini juga bisa diadopsi oleh koperasi dan perusahaan swasta," tandasnya.

Seperti diketahui, belakangan ini terjadi kelangkaan garam di sejumlah daerah di Indonesia. Hal ini menyebabkan naiknya harga garam dan melonjaknya harga ikan asin. Bahkan, produsen ikan asin terancam gulung tikar.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming