Image

Mahasiswa Indonesia Berkesempatan Mengajar di Thailand, Ini Ceritanya!

Siska Permata Sari, Jurnalis · Kamis, 10 Agustus 2017 - 08:20 WIB
Foto: Dok IPB Foto: Dok IPB

JAKARTA - Suasana pendidikan di dalam negeri dan di luar negeri tentulah berbeda. Mulai dari menanamkan kedisiplinan hingga proses belajar dan mengajarnya pun berbeda.

Itulah yang dirasakan salah satu mahasiswa asal Indonesia, Muhammad Imam Baihaqi saat berkesempatan mengajar di Thailand dalam sebuah program relawan AIESEC.

Pria yang tercatat sebagai mahasiswa di Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut telah bergabung dalam program pertukaran mahasiswa ke Thailand selama 48 hari yang dimulai sejak 11 Juli hingga 29 Agustus mendatang.

Dalam program tersebut, Bai, sapaan akrabnya, berkesempatan mengajar di salah satu sekolah di Propinsi Chataburi, Thailand.

Bai mengaku, saat tiba di Chataburi, ia mendapat perlakuan yang sangat baik sebagai orang asing. "Mereka sangat bersahabat sengan saya sebagai orang asing. Terutama dalam menyajikan makanan, mereka sangat mengerti jika saya orang Muslim yang tak makan daging babi," kata Bai seperti dilansir dari laman IPB, Kamis (10/8/2017).

Untuk persoalan pendidikan di Thailand, Bai mengaku takjub pada tingkat kedisiplinan dan keramahtamahan anak-anak di Thailand. Di kelas, kata Bai, para murid mematuhi guru mereka dan menjaga ruang kelas tetap bersih.

"Sungguh menakjubkan, bahwa mereka terbiasa menyikat giginya setelah makan siang dan sebelum pulang," kisahnya.

Kedisiplinan itu juga terbukti pada sistem pembelajaran di Thailand. Bai mengungkapkan, sebelum memulai kelas, guru-guru di daerah tersebut akan memukul murid yang sulit diatur dengan sepotong kayu. "Kalau saya menolak (untuk hal itu). Itu bukan ajaran khas saya," ungkapnya.

Selama di Thailand, Bai juga mengalami kesulitan-kesulitan. Salah satunya adalah berkomunikasi dengan masyarakat setempat menggunakan bahasa Inggris.

Bahkan, aku Bai, untuk berkomunikasi dengan masyarakat di sana, ia lebih sering menggunakan Google Voice Translate.

"Sebenarnya mereka mengerti bahasa Inggris, tapi mereka malu untuk berbicara bahasa Inggris atau untuk mengungkapkannya. Ini adalah tantangan baru bagi saya. Jadi saya menggunakan isyarat untuk berkomunikasi dengan mereka," jelas dia.

Sekilas tentang AIESEC, itu adalah sebuah organisasi nirlaba non-pemerintah berskala internasional yang memberi orang muda pengembangan kepemimpinan dan magang lintas budaya serta pertukaran relawan dari seluruh dunia.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming