Mengharukan! Siswa Ini Menjual Karpet untuk Masuk Perguruan Tinggi

Agregasi Antara, · Selasa 08 Agustus 2017 13:22 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 08 65 1751793 mengharukan-siswa-ini-menjual-karpet-untuk-masuk-perguruan-tinggi-d7Quq5DppW.JPG Reza Rafat. Foto: Xinhua

KABUL - Menjalani kehidupan bagi seorang lulusan sekolah menengah di negara yang dilanda pertempuran seperti Afghanistan, tidaklah mudah. Sebab mereka menghadapi tantangan yang sangat berat untuk bisa lolos masuk ujian nasional masuk universitas.

Hal itu juga dialami oleh Mohammad Reza Rafat (18) yang meraih nilai tertinggi dalam ujian nasional masuk universitas atau istilahnya, Kankor.

"Saya biasa menghabiskan lima sampai 10 menit untuk makan dalam memusatkan perhatian pada pelajaran sebelum ikut ujian Kankor," kata Reza kepada Xinhua belum lama ini.

Reza sendiri bekerja di sebuah industri penenunan karpet di Dasht-e-Barchi, beberapa kilo dari pusat kota. Sebelumnya, selama 14 tahun ia telah berjuang menyelamatkan diri dari derita kemiskinan parah yang melanda Kabupaten Panjab di Afghanistan Tengah.

Ia mengatakan, selama ini dirinya memimpikan jadi seorang spesialis medis yang terlatih untuk mengobati penyakit warganya.

"Jadi, saya memutuskan untuk belajar sungguh-sungguh agar bisa menjadi ahli bedah kanker di masa depan biar bisa mengobati warga yang sakit dan menghabiskan biaya yang sangat besar untuk pengobatan di luar negeri atau di negara tetangga,"

Meraih nilai membanggakan di ujian masuk universitas, membuat Reza tidak percaya akan hal yang diraihnya. Namun, mengingat kerja keras dan cara belajarnya yang dimulai dari senja hingga fajar, memang ia berharap bisa mendapat nilai yang layak untuk bisa belajar ilmu medis.

"Nilai saya dalam ujian sementara sangat bagus, sehingga membuat saya berharap bisa memperoleh nilai bagus dalam ujian Kankor juga," ungkap Reza.

Ia mengaku tahu kabar baik tersebut dari mulut seorang teman sekelasnya. "Saya sedang tidur, ketika seorang teman dan teman sekelas saya bergegas memberitahu saya mengenai keberhasilan saya dalam ujian itu. Tapi saya kira ia bercanda," kisahnya.

Kesulitannya mengakses kebenaran kabar baik itu juga dialami oleh Reza karena tidak memiliki saluran internet maupun telepon genggam. "Jadi saya pergi ke warung Internet terdekat untuk memeriksa. Ia benar. Saya telah berhasil meraih posisi tinggi dalam ujian masuk nasional," kata Reza.

Dari situ, Reza akhirnya mengetahui bahwa ia telah meraih nilai 344,24 untuk menempati posisi pertama.

Untuk rencana ke depan, Reza berharap bisa melanjutkan pendidikan tingginya di salah satu universitas terbaik di dunia seperti University of Oxford di Inggris. Tapi kalau ia gagal, ia akan bergabung di satu universitas India atau Turki.

Namun, untuk membiayai kuliah sendiri, Reza mengaku akan menggunakan dana dari sang ayah yang digabungkan dengan dana kumpulannya sendiri dari hasil penjualan karpet.

Sementara ayah Reza, Ewaz Mohammad merupakan pekerja di Departemen Kebersihan Kota Praja Kabul dan hanya menerima 6000 Afghani atau sekira Rp1,1 juta per bulan. Gaji tersebut juga digunakan untuk menghidupi tujuh anggota keluarganya.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini