Mantap! Negara di Asia Memiliki Keterikatan Kuat Lewat Sastra, Ini Buktinya..

Agregasi Antara, · Selasa 08 Agustus 2017 19:05 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 08 65 1752087 mantap-negara-di-asia-memiliki-keterikatan-kuat-lewat-sastra-ini-buktinya-X6OYow45Wh.jpg Pramoedya Ananta Toer. Foto: Istimewa

JAKARTA - Negara-negara di Asia Tenggara memiliki keterikatan sejarah sastra yang panjang sejak ratusan tahun yang lalu. Demikian kata Hilmar Farid, seorang sejarawan dan aktivis yang kini menjabat sebagai Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Keterikatan tersebut, ia contohkan melalui kisah Panji dari Jawa Timur sebagai salah satu kesamaan sastra di beberapa negara di ASEAN seperti Malaysia, Filipina, Kamboja, dan Thailand, meski dengan berbagai karakter tokoh yang berbeda.

Selain Panji, ada juga kisah familiar yang akrab di telinga kita, yakni Mahabarata. Kisah yang mempunyai jejak sama di negara-negara Asia termasuk India.

Keterikatan itu, kata dia, bisa mempersatukan negara-negara di Asia Tenggara lebih daripada ikatan politik dan ekonomi yang telah dibina lebih dulu.

Contoh lain keterkaitan tersebut ada pula pada kisah-kisah legenda seperti kepercayaan hantu atau roh.

"Kita punya karakter perempuan yang mati karena melahirkan, di Thailand ada nangnak, di Filipina ada aswang, ada matianak atau kuntilanak, bahkan di Indonesia ada kota dengan nama Pontianak yang berdasarkan literasi sama," lanjut dia.

Sementara memasuki era modern kesamaan sastra tersebut terus berlanjut. Salah satunya melalui konsep sunyi yang kerap muncul dalam karya-karya penulis lokal Asia Tenggara. Kesunyian itu, lanjut dia, mengekspresikan karut-marutnya kondisi di era tersebut.

Di Indonesia sendiri ada Amir Hamzah dari kelompok Pujangga Baru yang telah memulainya lewat Njanji Soenji pada 1973. Sebuah buku dengan 24 puisi dan satu karya tanpa judul.

Konsep sunyi itu kemudian berlanjut hingga era sastra kontemporer. Konsep itu diperkuat dengan penyampaian karya Nyanyi Sunyi Seorang Bisu oleh Pramoedya Ananta Toer. Tulisan yang ditulisnya ketika mendekam di Pulau Buru.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini