Image

Hebat! Mahasiswa Yogyakarta Bikin Aplikasi Pendeteksi Vaksin Palsu

Foto: Kedaulatan Rakyat

Foto: Kedaulatan Rakyat

SLEMAN - Tentu masih ingat dengan kejadian yang menggegerkan dunia kesehatan tentang terbongkarnya sindikat pembuat vaksin palsu yang ternyata telah menyebar ke seluruh wilayah di Indonesia.

Dalam kasus ini, masyarakat, terutama anak-anak selaku konsumen kembali menjadi korban yang dirugikan atas adanya temuan tersebut.

Berangkat dari permasalahan itulah lima mahasiswa di Yogyakarta membuat sebuah aplikasi untuk memastikan keaslian vaksin. Bagaimana caranya?

Mahasiswa itu antara lain Novrizal Dwi Rozaq, Anggito Kutsar, Musthafa Abdur Rosyied, Aditya Laksana Suwandi dan Almantera Tiantana. Kelimanya tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Mereka menggagas sebuah aplikasi bernama Aplisin yang bisa dijadikan rujukan untuk memastikan keaslian vaksin.

Salah satu mahasiswa, Novrizal mengatakan, cara kerja aplikasi tersebut sebenarnya cukup sederhana. Yaitu dengan membaca QR Code dalam kemasan vaksin. Nantinya, lanjut dia, database yang ada di aplikasi tersebut akan mendeteksi apakah vaksin tersebut asli atau tidak.

"Kami coba tawarkan solusi lewat aplikasi, namun tetap harus bekerjasama dengan stakeholder seperti perusahaan vaksin hingga Kementrian Kesehatan untuk menempelkan QR code di tiap kemasan," kata Novrizal seperti dilansir dari KRJogja, Minggu (13/8/2017).

Ia menjelaskan, QR code tersebut kemudian dimasukkan dalam database Apsilin. "Sehingga bila semua sudah masuk, QR code tinggal di-scan melalui smartphone dan akan ditampilkan tiga hal yakni vaksin terverifikasi, sudah digunakan atau tak teregistrasi alias palsu," ungkapnya.

Ia berharap Aplisin buatan timnya ini bisa menjadi pintu masuk perlindungan konsumen khususnya masyarakat yang sedang membutuhkan vaksinasi. "Apabila kode tak terdeteksi maka pengguna bisa langsung melaporkan ke Balai POM lengkap dengan lokasi vaksin tersebut ditemukan," imbuh dia.

Harapannya, aplikasi Aplisin digunakan oleh semua masyarakat demi melindungi konsumen dari kejadian serupa. "Jadi ketika mau vaksin bisa melakukan verifikasi mandiri untuk memastikan keasliannya. Jika terverifikasi maka bisa digunakan. Jika tidak berarti palsu dan berhak menolak," tandas mahasiswa yang turut menggagas, Anggito Kutsar.

(sus)
Live Streaming
Logo
breaking news x