Image

OKEZONE STORY: Haru! Rakyat Menangis, Bunga Habis, sampai Gundukan Tanah Rata di Pemakaman sang Proklamator

Hantoro, Jurnalis · Minggu, 13 Agustus 2017 - 08:01 WIB
Ir Soekarno. (Foto: Ist) Ir Soekarno. (Foto: Ist)

SIAPA orang yang tidak mengenal Ir Soekarno pada masa lalu. Sosoknya yang berkarisma, berwibawa, dan tegas mampu mengantarkan Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan. Ia pun bersama Mohammad Hatta dinobatkan sebagai proklamator negeri ini.

Jika membahas Bung Karno, terdapat kisah yang cukup mengharukan di kala kepergiannya. Semua rakyat Indonesia berduka hingga menangis histeris melepas kepergiannya. Tidak rela ditinggalkan dan ingin terus dipimpinnya.

Kemudian pada Minggu 21 Juni 1970 ketika Presiden Soekarno wafat dan disemayamkan di Wisma Yaso, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, rakyat Indonesia pun berjejalan hadir di sana. "Bersama ratusan ribu rakyat Indonesia, saya datang ke Wisma Yaso malam itu," ungkap mantan ajudan Bung Karno, Bambang Widjanarko, sebaimana dikutip dari buku 'Sisi Lain Istana' karya J Osdar, Minggu (13/8/2017).

Rakyat di lokasi persemayaman itu terlihat antrean panjang para pelayat. Diceritakan, setapak demi setapak mereka bergerak maju mendekati jenazah Bung Karno yang terbaring di ruang tengah. Suasana kala itu pun layaknya lautan manusia.

Lalu pada Senin esok harinya, sekira pukul 10.00 WIB, jenazah Bung Karno dibawa ke Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, untuk diterbangkan ke Malang, Jawa Timur, dan selanjutnya diantar ke Blitar. Seiring iring-iringan tersebut, sepanjang jalan tampak ribuan ibu dan gadis menangis, bahkan sampai histeris.

"Saya saksikan lagi ribuan rakyat berjejal di sepanjang jalan. Ibu-ibu dan gadis-gadis menjerit, menangis, atau diam membatu dengan air mata mengalir di pipi. Saya berkata kepada putri Bung Karno, 'Lihatlah Rachmawati, rakyat masih mencintai Bung Karno.' Rachmawati mengangguk," terang Bambang Widjanarko.

Setelah itu, sore harinya, jenazah Bung Karno tiba di Blitar. Segera dilakukan prosesi pemakaman yang dipimpin Jenderal Panggabean. Usai Sang Proklamator dimakamkan, ribuan pelayat yang datang langsung mengerumini makam. Tumpukan bunga pun habis diambil dan dibawa pulang oleh mereka. Kemudian gundukan tanah pusara Bung Karno juga bernasib sama.

"Jangan tanyakan kepada saya mengapa itu terjadi. Seseorang yang saya tanya hanya menjawab, 'Bung Karno pemimpin besar. Sebagai kenangan, saya bawa sedikit bunga ini'," jelas Bambang Widjanarko.

Diungkapkan lagi, hingga tengah malam para petakziah masih memadati kompleks pemakaman. Bahkan, mereka berkumpul di sekitar karangan bunga dan gundukan tanah makam. Sungguh sangat mengharukan.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming