Image

Mantap! Akademisi di Semarang Bikin Alat Ukur Digital Kontraksi Rahim

Agregasi Antara, Jurnalis · Minggu 13 Agustus 2017, 17:36 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 08 13 65 1755168 mantap-akademisi-di-semarang-bikin-alat-ukur-digital-kontraksi-rahim-evtDVEizgn.jpg Foto: Ilustrasi

YOGYAKARTA - Sejumlah akademisi di dua institut pendidikan tinggi di Semarang menjalin kerja sama dalam pengembangan alat medis berupa bioelektrik untuk pengukuran kontraksi rahim dari tangkapan sinyal.

Kolaborasi tersebut dilakukan oleh Universitas Diponegoro (Undip) dan Politeknik Kesehatan Semarang.

"Dengan alat ini kita dapat mengetahui pasien untuk melahirkan secara normal atau tidak," kata inovator alat ukur kontraksi uterus digital dari Undip Suryono, baru-baru ini.

Ia menjelaskan bahwa bioelektrik yang terdiri dari rangkaian sensor, perangkat keras dan perangkat lunak mikroprosesor ini dilengkapi dengan tiga elektroda permukaan bioelektrik bahan AgCI yang dapat disterilkan dan tidak beracun sehingga tidak menimbulkan alergi.

Elektroda tersebut, lanjut dia, bekerja dengan cara meneruskan aktivitas ion saat terjadi depolarisasi pada sel otot rahim melalui permukaan abdomen ibu.

Latar belakangnya sendiri, ungkap Suryono, sebab masih adanya angka kematian ibu dari 359 berbanding 100.000 ibu. Kematian ini diakibatkan karena sang ibu sudah tak kuat untuk melahirkan tetapi tetap dipaksakan. Oleh sebab itu, menurut dia, alat tersebut bisa meminimalkan angka kematian ibu saat bersalin.

Sementara inisiator alat ukur kontraksi uterus digital dari Politeknik Kesehatan Semarang dr Melyana Nurul menambahkan, alat ini sudah diujicoba dan sudah divalidasi oleh dokter spesialis secara ilmiah. "Selanjutnya alat ini diujicoba di Rumah Sakit Undip, tingkat Puskesmas dan juga menguji 50 pasien persalinan," ungkapnya.

Menurut Melyana, dari referensi yang terkumpul alat ini disempurnakan dalam kurun waktu kurang lebih 1,5 tahun.

"Dengan alat ini kita bisa lihat dari frekuensi yang dikeluarkan, apakah kontraksi ini bisa membuat pembukaan atau tidak. Karena untuk mendapatkan bukaan yang bagus harus mendapatkan 90 volt," ujar tim inisiator alat tersebut Tecky Afifah.

Inovasi yang dikembangkan oleh para akademisi ini beberapa waktu lalu juga berlaga di ajang Ritech Expo 2017 dalam rangka Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) di Center Point of Indonesia, Makassar. Dalam acara tersebut dipamerkan inovasi teknologi dari sejumlah lembaga, dan perguruan tinggi di Indonesia.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini