Share

Kasus Kekerasan Jurnalis di Medan, Kontras: Sulit Bagi Warga Sipil Mencari Keadilan

Wahyudi Aulia Siregar, Okezone · Selasa 15 Agustus 2017 23:48 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 15 340 1756694 kasus-kekerasan-jurnalis-di-medan-kontras-sulit-bagi-warga-sipil-mencari-keadilan-1Lnp3QpQp0.jpg Ilustrasi

MEDAN – Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menyayangkan lambatnya proses penanganan kasus kekerasan terhadap jurnalis yang patut diduga dilakukan oleh oknum prajurit TNI dari Pangkalan Udara (Lanud) Soewondo Medan, pada medio Agustus 2016. Kasus itu hingga kini masih bergulir di peradilan tingkat pertama di Pengadilan Militer 0201 Medan.

Lambatnya penanganan kasus itu dibuktikan dengan belum ditemukannya titik terang atas kasus penganiayaan itu. Padahal, proses penyelidikan kasus itu sudah telah berlangsung sejak setahun yang lalu.

Oditur Militer yang diberikan amanah untuk memberikan keadilan bagi para korban yang merupakan warga sipil, hanya berhasil menyeret satu tersangka dari pihak TNI atas nama Prajurit Satu Rommel P Sihombing. Padahal aksi kekerasan itu memakan lebih dari satu korban dan dilakukan secara terorganisir.

"Ini bukti lambatnya proses untuk mendapat keadilan bagi para korban kekerasan khususnya yang dilakukan TNI. Padahal korban butuh kepastian hukum," kata Koordinator KontraS Sumut, Amin Multazam Lubis, Selasa (15/8/2017).

(Baca Juga: Usut Kasus Penganiayaan Jurnalis, Panglima TNI Bentuk Tim Investigasi)

KontraS Sumut yang juga tergabung dalam Tim Advokasi Pers Sumut menyayangkan hanya satu kasus yang disidangkan. Sementara kasus kekerasan itu juga terjadi kepada beberapa jurnalis yang saat itu meliput bentrokan.

"Kita bahkan tidak tahu sudah sejauh mana proses dan perkembangan proses hukumnya," tukasnya.

Dia berharap, momentum satu tahun Tragedi Sari Rejo itu bisa jadi semangat untuk mendesak para penegak hukum menjalankan prosesnya karena beberapa kasus dianggap masih jalan di tempat.

"Jadi bukan sekadar seremonial belaka, lalu pelan-pelan mengikhlaskan. Penegakan hukum adalah satu-satunya jawaban untuk menghapus preseden buruk atas peristiwa kekerasan jurnalis di Sari Rejo," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Forum Jurnalis Medan (FJM), Jonris Purba mendesak agar proses hukum kasus yang mendera para koleganya itu bisa dilaksanakan. Dia pun menuntut agar para pelaku kekerasan diberikan sanksi tegas.

"Penganiayaan dan kekerasan terhadap pers merupakan kejahatan luar biasa sebab melanggar UU Nomor 40 tahun 1999. Kita mengutuk keras kekerasan terhadap insan pers," katanya.

Selama ini, menurut Jonris, pers bekerja menggunakan aturan yang jelas. Momen satu tahun tragedi berdarah itu bagi FJM adalah citra buruk bagi TNI yang selama ini memakai slogan TNI Kuat Bersama Rakyat.

"Pers pada dasarnya bekerja dengan aturan jelas dan juga koridor yang baku. Karenanya lewat momen ini FJM kembali menegaskan bahwa pers sepenuhnya patuh pada aturan yang mengikatnya," ujarnya.

Sekadar diketahui, beberapa jurnalis yang menjadi korban kekerasan oknum TNI AU saat bentrokan antara warga dan TNI AU di Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia, Kota Medan antara lain, Array A Argus (Tribun Medan), Teddy Akbari (Sumut Pos), Fajar Siddik (medanbagus.com), Prayugo Utomo (menaranews), Andry Safrin Purba (INews TV) serta AD (matatelinga.com), satu-satunya korban yang mendapat pelecehan seksual.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini