nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

HARI MERDEKA: Napak Tilas Sejarah Pendidikan Indonesia, Sekolah Rakyat hingga SMA

Siska Permata Sari, Okezone · Rabu 16 Agustus 2017 19:14 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 08 16 65 1757276 hari-merdeka-napak-tilas-sejarah-pendidikan-indonesia-sekolah-rakyat-hingga-sma-7JSFV7VLFf.jpg Foto: Wikipedia

JAKARTA - Saat ini pendidikan dapat dimulai dari Taman Kanak-Kanak (TK), kemudian melanjutkan ke sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA).

Selain itu, kini pendidikan bisa dirasakan oleh siapa saja. Meskipun faktanya, masih ada beberapa pulau yang tak memiliki bangunan sekolah. Setidaknya saat ini pendidikan di Indonesia adalah hak segenap rakyat, bukan hanya keistimewaan para kaum bangsawan.

Pasalnya, di masa penjajahan Belanda dan Jepang yang dialami Indonesia berabad-abad lamanya, pendidikan hanya dikhususkan bagi kaum elit. Pendidikan di Indonesia hanya dinikmati kaum ningrat dan priyayi, meski berselang kemudian masyarakat umum lambat laun bisa merasakan pendidikan mulai dari membaca dan berhitung.

Belajar sejarah di hari kemerdekaan seperti hari ini, tidak ada salahnya. Nah, berikut jenjang-jenjang pendidikan bagi masyarakat Indonesia sebelum kemerdekaan, seperti dinukil Okezone dari berbagai sumber, Rabu (16/8/2017).

Sekolah Dasar (SD)

Di zaman penjajahan Belanda, jenjang yang setara dengan SD adalah Hollandsch-Inlandsche School (HIS) dan Europeesche Lagere School (ELS) yang masing-masing didirikan sejak 1914 dan 1817. Bila kini waktu mengenyam pendidikan di SD hanya sampai enam tahun, di HIS dan ELS, murid harus menempuhnya selama tujuh tahun.

Kemudian di masa penjajahan Jepang, disebut Sekolah Rakyat (SR). Barulah pasca-kemerdekaan, sebutan sekolah dasar (SD) diresmikan pada 13 Maret 1946.

Sekolah Menengah Pertama (SMP)

Sama seperti tingkat SD, penamaan jenjang sekolah dengan bahasa Belanda juga diterapkan bagi pendidikan menengah. Saat itu, sekolah yang setara SMP adalah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Selain MULO, ada juga Hoogere Burgerschool (HBS) yang menghabiskan waktu hingga lima tahun.

Namun, HBS ini pada mulanya hanya diperuntukkan bagi warga Belanda di Indonesia. Sementara di tahun 1874 Belanda baru mengizinkan pribumi mengecap pendidikan di HBS. Meskipun begitu, pada 1900 hanya 2 persen jumlah anak pribumi di HBS.

Usai kemerdekaan, MULO berubah menjadi sekolah menengah pertama (SMP) pada tanggal 13 Maret 1946. Lalu di tahun ajaran 1994/1995 sebutan SMP berubah menjadi Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dan diubah kembali menjadi SMP di tahun ajaran 2003/2004.

Sekolah Menengah Atas (SMA)

Di masa penjajahan Belanda, ada HBS yang serupa penggabungan sekolah SMP dan SMA dalam satu paket. HBS sendiri hanya boleh dimasuki oleh orang Belanda, Eropa, atau elit pribumi. Selain HBS, di jenjang SMA, Indonesia juga memiliki Algemeene Middelbare School (AMS) yang masa studinya tiga tahun.

Sekolah menengah atas ini juga hanya ada di beberapa ibu kota provinsi seperti Medan, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Makassar. Kemudian di masa penjajahan Jepang tahun 1942, nama AMS diganti dengan Sekolah Menengah Tinggi (SMT).

Selanjutnya, usai Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 13 Maret 1946 SMT berubah nama lagi menjadi Sekolah Menengah Oemoem Atas (SMOA) dengan menggunakan ejaan lama. Barulah pada 1950 SMOA diubah menjadi Sekolah Menengah Atas (SMA) yang terdiri dari tiga yakni SMA Bahasa, SMA Ilmu Pasti dan Ilmu Alam, dan SMA Ilmu Sosial.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini