nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tolong! Gaji Honorer Ini Masih Terombang-ambing Tak Jelas

Liansah Rangkuti, Jurnalis · Minggu 20 Agustus 2017 10:10 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 08 18 65 1758588 tolong-gaji-honorer-ini-masih-terombang-ambing-tak-jelas-OjUcnt5CNb.jpg Foto: Ilustrasi Okezone

PANYABUNGAN - 72 tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia telah merdeka dari penjajahan angkatan bersenjata, namun persoalan rendahnya tingkat kesejahteraan guru honorer masih memperhatinkan. Contohnya di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara.

Hidayat (26), seorang salah satu guru honorer di salah satu sekolah dasar negeri (SDN), di Kecamatan Panyabungan Utara, Mandailing Natal, Sumatera Utara mengaku karena minimnya gaji guru honorer yang diterima, ia terpaksa mencari pekerjaan tambahan di luar jam mengajar.

"Karena gaji saya sebagai komite terlalu kecil, saya terpaksa mencari uang tambahan setelah pulang dari sekolah (selepas mengajar)," kata Hidayat kepada Okezone, baru-baru ini.

Meski guru adalah pekerjaan yang mulia, namun Hidayat masih mengalami kesulitan dalam meraih kariernya sebagai guru. Sebab, tidak hanya memikirkan karier sebagai guru, pria yang sudah memiliki satu anak ini juga masih memikirkan biaya rumah tangganya

"Apalagi saya sudah berkeluarga, kebutuhan hidup jelas lebih tinggi, untung saja saya masih tinggal bersama orang tua. Saat ini pengeluaran kontarakan rumah berkurang, tapi ini hanya sementara," ujarnya.

Hidayat menjelaskan, statusnya adalah guru honor komite yang diangkat oleh pihak sekolah dan komite bukan dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Pelalawan maupun honorer dari Pemerintah Provinsi.

Gajinya dibayar melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang disalurkan pemerintah kepada sekolah-sekolah penerima, sehingga gaji yang kecil itu baru akan diterima apabila dana BOS dicairkan pemerintah ke rekening sekolah, dimana pencairannya dilakukan satu kali dalam tiga bulan. Itu artinya Hidayat baru menerima gaji dalam tiga bulan sekali.

"Saya menerima gaji 3 bulan sekali, jadi selama 3 bulan itu saya selalu merasakan kesulitan untuk biaya sehari-hari," bebernya.

Sementara itu, pekerjaan yang biasa dikerjakan Hidayat di luar jam mengajar adalah mengambil kelapa tua ke ladang orang lain. Upah yang ia terima biasa digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari keluarganya.

"Pulang sekolah saya ikut memanen kelapa. Karena di daerah saya terkenal akan kelapanya yang di jual ke daerah lain," tuturnya.

Aktivitas memanen kelapa yang dijalaninya mulai dari memetik, mengupas dan melangsir. Hidayat berharap, agar pemerintah lebih memperhatikan nasib guru honor komite untuk tercapainya cita-cita bangsa.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini