Mantap! Padi Gogo Aromatik Karya Guru Besar Ini Dikembangkan di Maluku Utara

Agregasi Antara, · Minggu 20 Agustus 2017 17:07 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 20 65 1759311 mantap-padi-gogo-aromatik-karya-guru-besar-ini-dikembangkan-di-maluku-utara-FkKbx9Ywkw.jpg Foto: Ilustrasi Okezone

PURWOKERTO - Padi gogo aromatik Inpago Unsoed 1 telah dikembangkan di Kelurahan Akelamo, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, kata pakar pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Profesor Totok Agung Dwi Haryanto.

"Hari ini, kami melaksanakan panen perdana padi gogo aromatik Inpago Unsoed 1 yang ditanam di Kelurahan Akelamo, Kecamatan Oba Tengah. Produksi padi diperkirakan mencapai 8 ton gabah kering panen per hektare," katanya melalui siaran pers Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Unsoed yang diterima Antara di Purwokerto, Jawa Tengah, baru-baru ini.

Menurut dia, penanaman padi Inpago Unsoed 1 itu berorientasi pada produksi benih bersertifikat untuk mendukung penyediaan benih bersertifikat padi gogo dalam rangka pengembangan areal tanam perkebunan kelapa di Provinsi Maluku Utara.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa peningkatan produksi padi di Indonesia sudah tidak zamannya lagi bertumpu pada padi sawah.

"Alih fungsi sawah di Jawa makin menghebat. Tidak kurang dari 100 hektare per tahun sawah mengalami konversi, tidak mampu diimbangi oleh laju pencetakan sawah baru yang hanya sekitar 60 hektare setiap tahunnya," kata Guru Besar Pemuliaan Tanaman Unsoed itu.

Ia mengatakan bahwa satu-satunya jalan yang bisa ditempuh adalah mengoptimalkan lahan-lahan kering yang tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia, terutama di luar Jawa yang sebagian besar merupakan perkebunan untuk mendukung peningkatan produksi padi dengan penanaman padi gogo.

Menurut dia, sistem tersebut tidak memerlukan biaya tinggi untuk penyiapan infrastruktur irigasi pada pencetakan sawah dan tidak mengubah secara frontal keseimbangan ekologi.

"Maluku Utara merupakan salah satu daerah sentra kelapa di Indonesia selain Riau dan Sulawesi Utara. Pohon-pohon kelapa di daerah tersebut telah menurun tajam produktivitasnya karena telah melewati masa produktifnya, lebih dari 25 tahun," katanya.

Ia mengatakan bahwa peremajaan perlu melalui penanaman bibit kelapa varietas unggul.

Menurut dia, penanaman padi gogo di antara tegakan kelapa saat kebunnya diremajakan akan menjadi sumber bahan pangan utama yang selama ini diperoleh dari daerah lain. Bahkan, hasil penjualannya akan menjadi tambahan pendapatan bagi petani.

"Penanaman padi secara terintegrasi di bawah tegakan kelapa akan meningkatkan produksi padi sekaligus kelapa karena petani akan semakin intensif merawat kebunnya. Pupuk yang diberikan kepada tanaman padi gogo juga akan semakin mendukung perkembangan dan hasil pohon kelapa," katanya.

Totok mengatakan bahwa penanaman padi ladang di antara tegakan kelapa sebenarnya merupakan kebiasaan leluhur yang telah berkembang sejak zaman dahulu.

"Padi lokal yang ditanam di daerah setempat, salah satunya kultivar Menyanyi, umurnya sangat dalam, mencapai 6 bulan dan hasilnya rendah, sekitar 1,5 ton per hektare, nasinya keras saat ditanak sehingga petani makin lama makin enggan menanam," jelasnya.

Ia mengatakan bahwa Inpago Unsoed 1 merupakan varietas unggul padi gogo yang memiliki daya hasil tinggi di lahan kering dengan potensi hasil 7,42 ton per hektare dan lebih tinggi jika ditanam secara organik, umurnya genjah atau pendek sekitar 117 hari setelah tanam seperti IR 64, serta memiliki keistimewaan kualitas hasil, yaitu teksturnya pulen dan wangi/aromatik.

Sekretaris Pusat Penelitian Tanaman Padi dan Kedelai LPPM Unsoed mengatakan bahwa sifat pulen dan aromatik dari varietas padi yang dirakit oleh dua Guru Besar Unsoed Prof. Suwarto dan Prof. Totok Agung Dwi Haryanto ini sesuai dengan selera penduduk setempat yang biasa mendapatkan beras tersebut dari Makassar maupun Jawa.

Selain melaksanakan pendampingan teknologi budi daya terintegrasi padi-kelapa di lahan yang diusahakan oleh PT Tidore Sejahtera Bersama, kata dia, Tim Unsoed yang terdiri atas Prof. Totok Agung Dwi Haryanto, Mustaufik, Dyah Susanti, Akhmad Rizqul Karim, dan Agus Riyanto juga melaksanakan sosialisasi teknologi bagi masyarakat Kelurahan Akelamo yang sangat antusias penanaman padi gogo aromatik Inpago Unsoed 1.

Padi gogo aromatik tersebut ditanam oleh setiap keluarga yang rata-rata memiliki 2 hektare kebun kelapa akan mampu menopang tersedianya beras untuk kebutuhan mereka selama berbulan-bulan.

"Setiap bulannya setiap keluarga membeli sekitar satu hingga dua kantong beras dengan harga sekitar Rp400 ribu sehingga dalam 1 tahun biaya penyediaan beras setiap keluarga mencapai Rp4,8 juta," katanya.

Jika petani mampu memproduksi sendiri, pos anggaran untuk membeli beras tersebut, menurut dia, dapat dialokasikan untuk pendidikan anak, kesehatan, atau hal yang dapat mendukung usaha lainnya.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini