Image

Soal Larangan Motor, Djarot: Kalau Flyover & Underpass Selesai, Kebijakannya Bisa Berubah

Muhammad Iqbal, Jurnalis · Selasa, 22 Agustus 2017 - 12:16 WIB
Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat (Antara) Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat (Antara)

JAKARTA - Rencana Pemerintah DKI Jakarta melarang sepeda motor melintas di Jalan Rasuna Said dan Sudirman menuai protes keras dari warga. Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengatakan, kebijakan tersebut hanya diberlakukan selama pembangunan infrastruktur.

"Saat pembanguna flyover dan underpass itu sudah selesai maka kebijakan itu tentu saja berubah. Bayangan kami di tahun 2020 itu sudah tidak lagi pembatasan seperti ini. Bahkan jalur busway sudah enggak ada lagi, kita akan buka itu," kata Djarot di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (22/8/2017).

Jakarta dalam dua tahun terakhir sedang gencar membangun infrastruktur transportasi massal, mulai dari LRT, MRT, jembatan layang (flyover) hingga jalan bawah tanah (underpass). Pembangunan itu membuat jalan di beberapa titik menyempit, sehingga memperparah kemacetan.

Lahirlah wacana larangan sepeda motor melintas di Jalan Rasuna Said dan Sudirman, dua lokasi yang kini terkena imbas penyempitan jalan akibat pembangunan infrastruktur.

Menurut Djarot, kajian larangan motor di Jalan Rasuna Said dan Jalan Sudirman merupakan kajian dari Dirlantas Polri bersama Dinas Perhubungan DKI Jakarta.

Karena pemberlakuannya ditargetkan sampai selesainya infrastruktur, Djarot meminta masyarakat untuk bersabar hingga akhir 2017. Menurutnya, pada 2020 ketika infrastuktur transportasi baik flyover, underpass, MRT dan LRT sudah selesai, maka kebijakan larangan motor akan diubah.

Begitu juga jalur busway akan tetap ada, bahkan kendaraan lain boleh masuk jalur ini. "Tetep ada jalur (busway), tapi yang kendaraan lain boleh masuk. Kenapa? karena mereka kita dorong masuk kendaraan umum sehingga tidak perlu lagi (khusus busway)," ungkap Djarot.

Ketika transportasi publik sudah berjalan dengan bagus di Jakarta, maka jalur busway akan ditutup semua. "Itu akan kita bongkar. Makanya sekarang enggak macet lagi, jadi boleh. Kemudian kendaraan enggak usah dibatas-batas seperti itu. Ada beberapa ruas (jalan) protokol kasih ERP, otomatis mereka yang mampu silakan masuk," jelas dia.

Selain itu, kebijakan untuk ganjil dan genap, lanjut Djarot, akan dievaluasi karena kebijakan tersebut diadakan lantaran Jakarta sedang gencar melakukan pembangunan infrastruktur.

"Kita evaluasi, ini kan kebijakan yang sifatnya temporer yang kita terapkan saat ini ketika Jakarta sedang gencar-gencarnya membangun sarana transportasi termasuk juga memperlebar trotoar," ujarnya.

Dengan demikian dirinya berharap dapat membenahi hal tersebut sehingga pada, saat MRT rampung, trotoar pun sudah siap. "Kemudian perlikau masyarakat sudah siap, itu sudah mulai berubah. Ketika belum seperti itu maka pembatasan kendaraan bermotor berlaku. Ketika orang sudah masuk ke transportasi publik, ketika melihat kebijakan jangan sesaat ini tapi ke depannya seperti apa," tandasnya.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming