Hati-Hati! Kepala BNPT Imbau Mahasiswa Waspadai Radikalisme

Agregasi Antara, · Selasa 22 Agustus 2017 18:19 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 22 65 1760780 hati-hati-kepala-bnpt-imbau-mahasiswa-waspadai-radikalisme-oZTcfHRwYy.jpg Kepala BNPT Suhardi Alius (Foto: Dok Okezone)

PURWOKERTO - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Polisi Suhardi Alius mengajak mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Jawa Tengah, untuk mewasdai gerakan radikalisme.

"Bangsa ini berdiri karena idealisme, semua berperan di sini. Bayangkan, 17 tahun sebelum merdeka, sekelompok anak muda berani mendeklarasikan dirinya, merepresentasikan etnik, agama, ras pada tahun 1928, berbangsa satu bangsa Indonesia, bertanah air satu Tanah Air Indonesia, dan berbahasa satu bahasa Indonesia," katanya saat memberikan kuliah umum bagi 4.774 mahasiswa baru Unsoed di Auditorium Graha Widyatama, Unsoed Purwokerto, Selasa (22/8/2017).

Ia mengatakan hal itu tidak boleh dilupakan dan setelah Indonesia merdeka, tantangannya berubah. Menurut dia, tugas generasi yang ada sekarang adalah mengisi kemerdekaan itu. "Tetapi jangan khianati idealisme para pendiri bangsa ini," ujarnya, menegaskan.

Terkait dengan masalah radikalisme, Suhardi mengatakan paham itu dapat masuk dan mencuci otak calon pengikutnya dengan berbagai cara. Dalam hal ini, dia mencontohkan kasus di Jawa Timur, di mana seorang dosen mengintimidasi mahasiswa agar mengikuti alirannya.

Jika mahasiswa itu tidak mau, dosen tersebut memberi nilai buruk kepada yang bersangkutan.

Sementara di Jawa Tengah, ada dekan yang akan menjadi rektor, namun ternyata yang bersangkutan telah terafiliasi dengan ISIS.

Oleh karena itu, Suhardi mengharapkan mahasiswa untuk mewaspadai gerakan radikalisme dan melaporkan jika ada kegiatan-kegiatan yang mencurigakan.

"Indonesia bukan milik kita, tapi milik anak cucu kita," ucapnya.

Sementara saat memberikan sambutan, Rektor Unsoed Purwokerto Achmad Iqbal mengatakan pemahaman mengenai Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pancasila harus ditanamkan sedini mungkin kepada mahasiswa, khususnya mahasiswa baru.

"Jangan sampai paham radikalisme itu berkembang di perguruan tinggi, meskipun sekarang ada satu atau dua sudah ada masuk di perguruan tinggi, baik melalui mahasiswa maupun melalui dosen," tuturnya.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini