nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mahasiswa Teliti Hubungan Rendang & Budaya Merantau Orang Minangkabau, Apa Hasilnya?

Siska Permata Sari, Jurnalis · Senin 28 Agustus 2017 10:10 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 08 25 65 1763090 mahasiswa-teliti-hubungan-rendang-budaya-merantau-orang-minangkabau-apa-hasilnya-DDWYaDHa8b.jpg Foto: Dok Unpad

JAKARTA - Lidah orang Indonesia mungkin sudah sangat akrab dengan jenis masakan asal Padang bernama rendang. Hidangan yang selalu disajikan di rumah makan Padang itu pun kepopulerannya telah mencapai tingkat internasional.

Tetapi, tahu kah kamu jika rendang dan budaya merantau orang Minangkabau memiliki hubungan yang kuat? Nah, tiga mahasiswa di Bandung meneliti hubungan antara kuliner rendang dengan budaya merantau orang Minangkabau berdasarkan kajian sejarah.

Mereka adalah Hana Hanifah, Robi Adrizan Saputra, dan Ghina Siti Ramadhanty. Ketiganya tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung.

Penelitian yang dibantu oleh dosen pembimbing dari prodi Sastra Indonesia Nani Darmayanti tersebut mengusung tema besar itu dengan tajuk: Relevansi Masakan Rendang dengan Filosofi Merantau orang Minangkabau: Sebuah Kajian Sejarah Kuliner dalam Kaitannya Ekologi dan Budaya.

"Penelitian ini dilatarbelakangi popularitas rendang yang dikenal baik di seluruh wilayah Indonesia, maupun mancanegara," demikian seperti dilansir dari laman Unpad, Senin (28/8/2017).

Berdasarkan kajian CNNgo tahun 2011 dan 2017 saja, rendang dimasukkan dalam urutan pertama dalam jajaran makanan terlezat di dunia. Popularitas rendang ini ternyata tak lepas dari budaya merantau masyarakat Minangkabau yang lazim dilakukan sejak zaman dahulu.

"Menggunakan metode sejarah, tim menggali berbagai data terkait rendang dan merantau melalui empat tahap," jelasnya. Empat tahap itu antara lain heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.

Dari penelitian tersebut, tim mahasiswa di Bandung ini menemukan aktivitas merantau orang-orang Minangkabau sejak zaman dulu kala. "Ini didorong peran kebudayaan matrilineal, atau adat masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ibu," imbuhnya.

Dalam artian, budaya tersebut menyebabkan anak laki-laki Minang tak diberikan hak waris dan kamar pribadi di rumahnya. Hal tersebut mendorong anak laki-laki Minangkabau merantau. Mulai dari surau ke surau hingga ke kota-kota besar.

"Setelah orang Minang merantau, mereka memanfaatkan kemampuan memasaknya untuk mempertahankan hidup di tanah rantauannya," ungkapnya.

Dari situ, kemudian mendorong perantau-perantau tersebut mendirikan rumah makan yang menyajikan masakan khas Padang. Lantas, hal itulah yang menjadi cikal bakal kuliner rendang menjadi salah satu menu yang selalu ada.

Kini rumah makan yang menyajikan makanan khas Padang menjamur di kota-kota. Baik di kota besar maupun kota-kota kecil. Rumah makan Padang itu juga tak hanya dinikmati oleh orang Minangkabau, tetapi juga dari berbagai lidah suku di Indonesia.

Penelitian terkait humaniora ini dimasukkan ke dalam kompetisi Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-30 yang digelar di Makassar. Bukan itu saja, hasil penelitian ini juga disajikan dalam bentuk buku populer dan jurnal Metahumaniora.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini