nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Duh! Pendidikan Inklusi di Gunung Kidul Belum Optimal, Apa Masalahnya?

Agregasi Antara, Jurnalis · Rabu 30 Agustus 2017 12:44 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 08 30 65 1766028 duh-pendidikan-inklusi-di-gunung-kidul-belum-optimal-apa-masalahnya-LEGkKKHgTv.jpg Foto: Ilustrasi Okezone

JAKARTA - Pendidikan inklusi di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta dinilai masih belum berjalan baik. Hal ini diduga karena ketidakmampuan guru dalam mengidentifikasi karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Penilaian itu dikatakan Ketua Yayasan Edukasi Anak Nusantara Wironegoro. Bukan tanpa sebab, ia menjelaskan pihaknya telah melakukan penelitian awal sejak 2015 dan menemukan masih adanya hambatan dalam implementasi pendidikan inklusif di Gunung Kidul.

Pendidikan inklusi atau sekolah inklusi tersebut merupakan sistem pendidikan paling mutakhir bagi ABK seperti autisme. Sistem pendidikan ini menggabungkan siswa berkebutuhan khusus dengan siswa umum dalam pembelajaran yang sama.

Wironegoro memaparkan sejumlah kendala lain yang dialami guru-guru di Gunung Kidul dalam menangani pendidikan inklusif.

"Hambatan yang ditemukan di antaranya ketidakmampuan guru dalam mengidentifikasi karakteristik siswa berkebutuhan khusus," kata Wironegoro.

Selain itu, lanjut dia, terbatasnya guru dalam merancang kegiatan pembelajaran yang dapat mengakomodasi keberagaman siswa juga menjadi kendala tersendiri. Ada pula kesulitan lain yakni dalam mengelola iklim kelas untuk mencegah intimidasi terhadap siswa berkebutuhan khusus.

Ia mengatakan, temuan itu berdasarkan penelitian yang dilakukan di pesisir Gunung Kidul. Mulanya, kata dia, penelitian tersebut dilatar belakangi dengan semakin berkembangnya wilayah pesisir.

Oleh sebab itu, Wironegoro melakukan penelitian di empat sekolah dasar inklusif di Kecamatan Purwosari. Penelitian tersebut dilakukan dengan 12 orang peserta sejak Agustus 2016 hingga April 2017.

Untuk mengatasi itu, salah satu asisten peneliti Yayasan Edukasi Anak Nusantara Tya Inayatilaah mengatakan, pendekatan pembelajaran untuk meminimalisir hambatan tersebut adalah Universal Design for Learning (UDL).

"Pendekatan UDL ini menekankan para guru dan pengembang kurikulum untuk dapat mengidentifikasi dan meminimalkan hambatan melalui perencanaan pembelajaran yang efektif dan fokus pada engagement," paparnya.

Ia melanjutkan, penelitian tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan pemahaman guru terkait prinsip UDL. "Meningkatkan kapabilitas dan sensivitas guru dalam menemukan dan meningkatkan keterampilan guru dalam mengelola kelas sehingga siswa mampu menghargai perbedaan," tambahnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Gunung Kidul Bahron Rasyid mengungkapkan di Kabupaten Gunung Kidul ada 240 sekolah yang telah menyengarakan pendidikan inklusif.

"Seluruh guru sudah mendapatkan pelatihan dan seluruh sekolah sudah memberikan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus," ungkapnya.

Ia mengatakan, melalui penyebarluasan ide hasil penelitian tersebut diharapkan semua sekolah dapat mengimplementasikan model pendidikan inklusif secara optimal.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini