Cerita Kakek Usup, Gigih Mencari Sesuap Nasi Meski Gerak Tangan & Kaki Tak Normal Lagi

Syaiful Islam, Okezone · Kamis 31 Agustus 2017 11:25 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 31 340 1766762 cerita-kakek-usup-gigih-mencari-sesuap-nasi-meski-gerak-tangan-kaki-tak-normal-lagi-84RCaA85VP.jpg

SURABAYA - Dinginnya pagi tidak menyurutkan semangat Usup (60) untuk berjualan koran di perempatan lampu merah Prapen, Surabaya, Jawa Timur. Dia keluar dari rumahnya sekitar pukul 03.00 WIB untuk berjualan koran.

Ini dilakukan untuk menyambung hidup. Dirinya terpaksa berjualan koran ketika terkena penyakit darah tinggi sejak 12 tahun silam. Akibat darah tinggi itu, tangan kiri dan kaki kiri tidak berfungsi secara normal.

Di mana dia tidak bisa mengangkat sesuatu yang terlalu berat. Serta tidak bisa berjalan cepat, layaknya orang sehat. Sehingga pekerjaan yang saat itu dia lakoni sebagai tukang bangunan harus ditinggalkan.

Pria asal Kamoning, Kabupaten Sampang, Madura ini terpaksa berjualan koran setiap hari. Meski hasilnya jauh dari tukang bangunan, namun tetap Usup kerjakan. Setiap hari dia menjual koran sebanyak 25 eksemplar.

Harga koran yang dijual bervariatif antara Rp 2 ribu hingga Rp 3 ribu per eksemplar. Bapak empat anak ini mengaku dapat keuntungan hanya Rp 500 per eksemplar. Bila dalam sehari membawa koran 25 eksemplar berarti keuntungan yang didapat Rp 12 500.

Untuk bisa laku sebanyak 25 eksemplar tidak semudah membalikkan telapan tangan. Dia harus menjajakan koran pada setiap penguna jalan baik sopir maupun pengendara motor yang sedang berhenti di lampu merah.

Terkadang koran 25 eksemplar itu tidak cepat habis, melainkan hingga pukul 11 siang. Meskipun begitu, Usup tidak bisa berbuat banyak. Sebab penyakit darah tinggi yang diderita memaksa dirinya tidak bisa mencari pekerjaan yang lebih layak.

“Seandainya tangan dan kaki saya tidak sakit karena darah tinggi, tentu saya tidak jualan koran. Saya lebih memilih menjadi tukang bangunan karena hasilnya lebih besar,” terang Usup pada Okezone, Kamis (31/8/2017).

Menurut Usup, hasil dari penjualan koran tidak seberapa hanya Rp 500 pereksemplar. Tapi dirinya tetap semangat berjualan koran karena tidak bisa bekerja pada pekerjaan lain, karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan.

“Saya punya anak empat, yang pertama SMA, kedua SMP, ketiga SD dan yang terakhir masih TK. Istriku juga berjualan koran, tapi tidak jualan di sini melainkan di daerah Rungkut,” ucap pria yang tinggal di sekitar kawasan Prapen ini.

Ia menambahkan, setiap selesai salat lima waktu selalu berdoa pada Allah SWT supaya disembuhkan dari penyakit darah tinggi yang telah diderita. Supaya dirinya bisa bekerja sebagai tukang bangunan kembali.

“Kalau menjadi tukang bangunan kan hasilnya lebih besar dari jual koran. Sehingga bisa menafkahi istri dan anak-anakku dengan uang belanja yang lebih besar dari sekarang,” papar Usup.

Walaupun begitu, dia tidak mau mengemis untuk menyambung hidup. Sebab dirinya masih kuat bekerja, meskipun sebagai penjual koran eceran di perempatan lampu merah. Karena hasil dari bekerja lebih berkah dibandingkan mengemis.

Sementara itu, salah satu pengendara motor yang membeli koran, Achmad Hasan menyatakan, dirinya selalu membeli koran pada Usup ketika melintas di perempatan lampu merah Prapen. Dia mengaku tidak hanya sekedar ingin membeli koran, tetapi karena salut dengan kegigihan Usup.

“Saya salut pada semangatnya pak Usup. Walau dia sakit masih tetap berjualan koran, semangat kerjanya luar biasa. Makanya setiap lewat di Prapen, saya membeli koran pada dirinya,” papar Hasan.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini