Image

Di Jepang Bus Tanpa Sopir Justru Digunakan di Persawahan, kok Begitu?

Anton Suhartono, Jurnalis · Selasa, 12 September 2017 - 18:40 WIB
Jepang menguji coba mobil tanpa sopir di daerah terpencil di Nishikata (Foto: Reuters) Jepang menguji coba mobil tanpa sopir di daerah terpencil di Nishikata (Foto: Reuters)

TOCHIGI - Pemerintah Jepang menguji coba bus tanpa sopir atau berteknologi otonom untuk membantu kalangan lanjut usia agar tetap bisa beraktivitas. Uji coba dilakukan di daerah terpencil di Kota Nishikata, Prefektur Tochigi, bersamaan dengan musim panen padi pada bulan ini.

Berbeda dengan negara lain, seperti Singapura, Australia, dan di Eropa, yang justru menjajal kendaraan canggih ini di kota besar, Jepang justru memilih daerah terpencil. Ini bukan tanpa alasan.

(Baca Juga: Singapura Jajal Mobil Tanpa Sopir)

Populasi warga di daerah-daerah terpencil, seperti Nishikata, terus menurun sehingga berdampak pada berkurangnya pekerja di bidang transportasi. Sementara kalangan muda memilih merantau ke kota besar. Hal ini menjadi kendala karena kalangan lanjut usia membutuhkan sarana transportasi.

(Baca Juga: Bisa Angkut 11 Orang, Bus Tanpa Sopir Diuji di Australia)

Jepang akan memulai pengoperasian bus tanpa sopir di daerah terpencil secara massal pada 2020. Namun sebelum itu otoritas terkait melakukan uji coba.

Pemerintah Jepang akan mengubah fungsi halte menjadi tempat transit yang bisa membawa kalangan lanjut usia ke berbagai tempat seperti rumah sakit, pasar, atau bank.

"Penurunan populasi kalangan lanjut usia di kota-kota kecil di Jepang lebih cepat dibandingkan perkotaan. Di sana tidak ada cukup pekerja yang bisa mengoperasikan bus dan taksi," kata Hiroshi Nakajima, dari perusahaan pembuat software automotif, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (12/9/2017).

Untuk tahap awal, perusahaan yang dipimpin Nakajima itu akan menguji coba kendaraan otonom berkapasitas enam orang yang disebut dengan Robot Shuttle. Bus itu akan mengantarkan kalangan lanjut usia ke tempat transit lalu mereka dibawa ke berbagai tujuan yang diinginkan, seperti rumah sakit, bank, dan lainnya.

Uji coba ini juga untuk mempelajari faktor keselamatan pengoperasian kendaraan otonom menghadapi berbagai kondisi jalan, seperti genangan air serta saat melintasi persimpangan. Maklum saja, rute yang dilewati kendaraan adalah persawahan.

Dalam uji coba bus di-setting melaju dengan kecepatan 10 kilometer per jam. Tapi seorang warga yang ikut dalam uji coba ini, Susumu, menilai masih terlalu lamban. Ia meminta kecepatannya ditambah menjadi 40 km/jam.

Nishikata bisa menjadi cermin bagaimana gambaran populasi kalangan lanjut usia di Jepang. Di kota itu, sekira sepertiga dari 6.300 penduduknya berusia di atas 65 tahun. Jumlah itu naik 25 persen dalam empat tahun terakhir. Sementara jumlah penduduk secara keseluruhan turun 4,5 persen.

Bus-bus yang ada hanya dapat melayani segelintir warga saja. "Saya khawatir tidak bisa keluar lagi saat saya tidak bisa lagi menyetir," kata seorang warga, Shizu Yuzawa.

"Seiring masyarakat di kota ini semakin tua dan kalangan muda pindah ke kota, akan sulit untuk bisa mendapatkan pertolongan," tambah perempuan berusia 77 tahun yang biasa mengemudikan mobil pikap milik mendiang suaminya itu.

(ton)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming