Image

HISTORIPEDIA: Tragis, Nyawa Presiden Afghanistan Berakhir di Bawah Bekapan Bantal

Rahman Asmardika, Jurnalis · Kamis 14 September 2017, 06:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 09 13 18 1775186 historipedia-tragis-nyawa-presiden-afghanistan-berakhir-di-bawah-bekapan-bantal-xj6TjLfm1u.jpg Nur Muhammad Taraki, Presiden Afghansitan 1978-1979. (Foto: Lal Salaam)

NUR Mohammad Taraki adalah seorang politisi Afghanistan yang kemudian menjadi Presiden dan Perdana Menteri (PM) di masa Perang Dingin pada 1978 sampai 1979. Tetapi, sebagai tokoh yang memperoleh kekuasaan dengan pemberontakan, tidak mengherankan jika nasib Taraki tidak berakhir dengan bahagia.

Lahir pada 15 Juli 1917 dari keluarga suku Pashtun di Ghazni, Taraki menempuh pendidikan di sekolah malam dan mempelajari Bahasa Inggris saat bekerja di Bombay, India. Pada akhir 1940-an, Taraki bekerja di Departemen Pers Afghanistan sebelum ditunjuk sebagai atase di Kedutaan Besar Afghanistan di Washington DC, Amerika Serikat (AS) pada 1953.

Setelah pulang ke Afghanistan pada 1958, Taraki kemudian mendirikan perusahaan penyedia terjemahan bagi organisasi asing, Biro Translasi Noor di Kabul. Saat Raja terakhir Afghanistan, Mohammed Zahir Shah berkuasa, Taraki kembali memasuki dunia politik. Dia membantu mendirikan Partai Rakyat Demokratik Afghanistan (PDPA), sebuah partai beraliran Marxis yang berafiliasi dengan Uni Soviet pada 1963.

Pada 1973, Monarki Afghanistan berakhir setelah Mohammad Daud Khan, sepupu dari Zahir Shah merebut kekuasaan dan mendirikan Republik Afghanistan. Namun, pemerintahannya tidak berlangsung lama karena pada 1978, Presiden Pertama Afghanistan tersebut kembali digulingkan dan terbunuh dalam sebuah kudeta yang dinamakan Revolusi Saur.

Setelah kudeta usai, Taraki ditunjuk sebagai Presiden dan PM Afghanistan sementara Hafizullah Amin, rekan satu faksi Taraki dan penggagas Revolusi Saur menjadi wakilnya.

Sayangnya, kebijakan reformasi sosial dan agraria yang dijalankannya tidak mendapat sambutan baik dari rakyat Afghanistan. Kebijakan berhaluan Marxis itu menyulut kerusuhan dan demonstrasi besar-besaran di Afghanistan.

Pada Maret 1979, kelompok Mujahidin Afghanistan yang mendapat bantuan dari Iran mengobarkan pemberontakan di Kota Herat. Mereka membunuh dan menguliti para penasihat Afghanistan dan Uni Soviet bersama keluarganya.

Tidak mampu meredakan situasi genting di dalam negeri, Taraki kemudian meminta bantuan pada sekutunya, Uni Soviet. Sayangnya permintaan itu ditolak Moskow yang khawatir akan reaksi dari umat Islam di Uni Soviet dan dampak negatif dari intervensi tersebut.

Di sisi lain, karena situasi tersebut, Taraki mulai kehilangan pengaruhnya dan tertinggal dalam perebutan kekuasaan dengan Amin. Setelah menghadiri konferensi negara-negara Non-blok di Havana, pada awal September 1979, Taraki singgah ke Moskow untuk sekali lagi memohon bantuan Uni Soviet.

Meski belum bersedia menurunkan pasukan ke Afghanistan, Presiden Uni Soviet, Leonid Brezhnev memberikan saran pada Taraki untuk menahan kebijakan reformasinya untuk sementara guna meredakan situasi. Brezhnev juga menyarankan Taraki untuk menyingkirkan Amin yang telah menjadi duri dalam kekuasaan Taraki.

Saat kembali ke Afghanistan, Taraki memanggil Amin untuk bertemu di istana kepresidenan di Kabul. Namun, Amin yang sudah beberapa kali lolos dari upaya pembunuhan rupanya mengetahui niat dari mantan mentornya itu dan telah bersiap. Baku tembak antara kedua kubu tak terelakkan. Meski beberapa pengawalnya tewas, Amin berhasil lolos dan kemudian kembali untuk menangkap Taraki.     

Setelah sempat memenjarakan Taraki, Amin akhirnya mengambil keputusan untuk menyudahi riwayat rival politiknya tersebut. Taraki diikat dan dibekap dengan bantal hingga tewas di dalam selnya. Tidak diketahui kapan pastinya Taraki dibunuh, tetapi pada 14 September 1979 media Afghanistan melaporkan Taraki meninggal dunia akibat penyakit serius.

1 / 3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini