Image

Kemarau Panjang dan Nestapa Warga Banyuasin

Mewan Haqulana , Jurnalis · Kamis, 14 September 2017 - 00:00 WIB
Warga mandi di Sungai di Banyuasin. (Mewan H/Okezone) Warga mandi di Sungai di Banyuasin. (Mewan H/Okezone)

BANYUASIN - Kemarau panjang dan keterbatasan ekonomi, membuat sejumlah warga Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, terpaksa mengandalkan air sungai dan rawa yang kotor, untuk mandi, mencuci, buang air dan dikonsumsi.

Sumur yang biasa di pakai untuk mencuci, mandi, kakus (MCK). Sementara air dari PDAM Tirta Betuah melalui ledeng, hanya hidup 5 hari sekali, itu pun sangat sebentar, dan biaya tagihan PDAM malah membengkak.

Seperti yang dituturkan, Masna (36) warga Betung. Sudah sejak dua bulan terakhir, ia memanfaatkan air sungai yang keruh atau air rawa yang asam untuk mandi, cuci dan memasak.

"Kalau untuk minum kami beli air galon isi ulang, murah cuma Rp3 ribu. Tapi untuk mandi, cuci dan masak terpaksa pakai air sungai atau air rawa," ujar Masna, Rabu (13/9/2017).

Dampak keseringan mandi air kotor, diakui Masnah membuat warga sekitar terkena penyakit kudis gatal-gatal, kulit menjadi kering dan bersisik.

"Tapi itu lebih baik dari pada tidak mandi sama sekali," gurau nya sambil terkekeh.

Kondisi ini memaksa warga harus menghemat air karena susah didapat. Terlebih bagi yang biasa mandi dan buang air di rumah, harus turun ke sungai mengangkut air.

"Tapi sejak kemarau, banyak yang lebih memilih buang air besar di sungai," sambungnya.

Dia melanjutkan, bagi yang punya uang berlebih dan ada tempat penampungan air, masih bisa membeli air tangki dari PDAM seharga Rp 175 ribu untuk satu tangki 4000 liter.

"Kalau mau beli air tangki, stok PDAM Banyak, tapi untuk air ledeng yang dialirkan ke masyarakat tidak biaa diharapkan. Hidup 5 hari sekali, airnya pun kecil seperti kencing kucing, lebih banyak angin yang keluar dari keran ledeng. Alhamdulillah air sungai tidak kering, walau bikin gatal, lama-lama juga terbiasa," ungkapnya.

Kondisi yang sama juga dialami Ibrahim. Warga kelurahan Kenten Laut Kecamatan Talang Kelapa itu menyebut sejumlah warga sekitar mengalami kekeringan. Mereka pun memanfaatkan air rawa untuk kebutuhan mandi dan mencuci.

"Tapi harus disaring dulu, kalau tidak bisa kudisan," jelasnya.

Dia berharap pemerintah turun tangan memberikan bantuan air bersih kepada masyarakat. "Air merupakan kebutuhan pokok. Sudah selayaknya pemerintah turun membantu, kalau saja PDAM berfungsi warga tidak menjerit seperti ini," sambung Ibrahim.

Selain kesulitan air, kemarau panjang kali ini juga berdampak negatif terhadap kesehatan warga. Hal ini diakui oleh Kepala Dinas Kesehatan Banyuasin, Masagus Hakim.

Menurutnya, penyakit diare dan infeksi saluran pernafasan mingkat hingga 30 persen sejak tiga bulan terakhir. Hal ini lebih disenankan oleh faktor cuaca ekstrim ditambah udara dan air yang kurang bersih.

"Mengkonnsumsi air yang kurang bersih sangat riskan terjadap kesehatan. Biasakan menerapkan pola hidup bersih dan sehat, gunakan masker bila hendak keluar rumah," jelas Hakim.

Sementara Kepala Dinas Sosial Banyuasin, Hazmi mengatakan sejak seminggu lalu pihaknya dan tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPMPD) telah turun ke lokasi kekeringan membagikan air bersih untuk masyarakat.

"Sekali berangkat, kami membawa 10 ribu liter, ditambah yang dari BPMPD juga 10 ribu liter, mungkin belum sampai saja ke daerah itu," papar Hazmi.

Dia melanjutkan, pemerintah kecamatan atau desa setempat diharapkan segera menghubungi pihaknya bila kondisi wilayah tersebut membutuhkan air bersih. "Cukup di telepon saja kami siap datanga," singkatnya. (sym)

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming