Image

Duh! Penyerapan Dana Riset di Perguruan Tinggi Swasta Masih Minim

Rabu 13 September 2017, 16:02 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 09 13 65 1775115 duh-penyerapan-dana-riset-di-perguruan-tinggi-swasta-masih-minim-ck3OccxI7a.jpg Foto: Shutterstock

SURABAYA - Beberapa perguruan tinggi swasta di wilayah Jawa Timur mengakui masih minim dalam hal menyerap dana riset yang didapatkan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti).

Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Surabaya Aziz Alimul Hidayat mengakui kendala yang dialami pihaknya dalam menyerap dana riset dari Kemristekdikti disebabkan kebanyakan dosen di kampusnya merupakan dosen muda yang belum memenuhi persyaratan untuk memperoleh dana riset.

"Tahun lalu serapan anggaran Kemristekdikti kami masih minim, masih Rp2 miliar saja," ujarnya.

Untuk itu, kampusnya meminta satu dosen membuat satu riset untuk kemudian diseleksi internal. Seleksi internal itu dimaksudkan untuk menentukan riset mana yang akan diajukan ke Kemristekdikti atau didanai secara internal. Selain itu, pendanaan secara internal ini sebagai bekal persiapan untuk dosen muda sebagai dosen pemula.

Dia menjelaskan besaran dana riset yang diterima sekira Rp10 juta hingga Rp15 juta untuk perseorangan. Sedangkan jika dilakukan riset bersama untuk unggulan program studi besaran insentifnya mencapai Rp25 juta.

"Biasanya kami tentukan tema dan arah risetnya, memang saat ini lebih banyak serapan dana internal kami," ujarnya.

Aziz mengungkapkan, tahun ini dana riset internal UM Surabaya mencapai Rp1 miliar, jumlah ini dipastikan akan terserap 100 persen. Sedangkan dari Kemristekdikti, UM Surabaya mendapat jatah Rp5 miliar, yang akan diusahakan terserap dengan pengajuan hasil seleksi dari 100 riset dosen.

Kesulitan yang sama juga dialami Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). Wakil Rektor Unusa, Prof Kacung Marijan mengatakan, di kampusnya lebih banyak serapan anggaran riset internal. Untuk itu, pihak Unusa juga menyediakan insentif sebesar Rp5 juta untuk setiap riset yang dilakukan.

"Meskipun banyak penelitian internal, tetapi tetap kami dorong karena riset ini mempengaruhi akreditasi institusi," tuturnya.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini